Opini
OPINI: Anak Sebagai Aset Orang Tua
Tak heran banyak orang tua yang berekspetasi tinggi dengan anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari orang tuanya.
Lalu, salah seorang dari orang tuannya atau kedua-duanya sakit, salah seorang atau kedua-duanya meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengasuh/pengempu) sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani dan sosial.
Jika kita berpandangan bahwa anak sebagai aset, maka setiap pola asuh pada anak akan diarahkan untuk menghasilkan materi dan prestasi.
Tentunya hal ini bisa menjadi dua hal prinsip yang berbeda, yaitu jika untuk menghasilkan materi, hal ini bisa dikatakan meringankan beban ekonomi keluarga, dan kalau wujudnya prestasi bisa mengangkat status sosial keluarga.
Banyak anak yang menjadi korban karena orang tua yang belum matang dalam mempersiapkan masa depan anaknya.
Fenomena seperti ini biasa terjadi di kampung terpencil, banyak anak yang hanya lulusan SMA/K bahkan SMP diharuskan untuk dapat membantu orang tua dalam mencari mata pencaharian.
Tidak hanya itu, banyak juga anak yang secara terpaksa meninggalkan bangku sekolah akibat perekonomian keluarga yang tidak dapat menunjang pendidikan anak, sehingga secara tidak langsung membuat anak harus mencari pekerjaan demi keberlangsungan hidup.
Ada juga anak yang ikut membantu pekerjaan orang tua nya seperti, ikut berkerja ke sawah/kebun dan perkerjaan berat lainnya.
Lantas bagaimana dengan hak dari seorang anak?
Hak-hak anak ini pun tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setidaknya ada 4 hak dasar anak yang harus dipenuhi oleh orang tua, mulai dari nafkah, perlindungan, keadilan, hingga pendidikan yang baik.
Melihat dari hal tersebut sudah menjadi kewajiban orang tua dalam menyiapkan bekal untuk anak, seperti pendidikan yang baik, nafkah yang cukup untuk masa depan anak. Dan kewajiban anak juga dalam menjaga amanah dari orang tua.
**Penulis opini dengan judul 'Anak Sebagai Aset Orang Tua' adalah mahasiswa Jurnalistik, Universitas Bengkulu (UNIB).
| Pancasila di Era Digital: Merawat Persatuan melalui Komunikasi Persuasif |
|
|---|
| OPINI - Di Balik Ompreng MBG Bengkulu: Ada Petani, Dapur, dan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Bergerak |
|
|---|
| Opini: Fenomena Geng Motor di Bengkulu, dari Pergaulan Remaja hingga Ancaman Jalanan |
|
|---|
| Atur Posisi Penumpang, Tapi Abaikan Sistem? Kritik Terhadap Kebijakan Penataan Gerbong KRL |
|
|---|
| Artificial Intelligence dan Kerumunan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/OPINIMAHASISWA-UNIB145.jpg)