Opini
OPINI: Antara Pertamina, Pelindo dan Helmi Hasan
TIGA pihak dengan otoritas berbeda paling tersudutkan dalam kasus kelangkaan BBM di Bengkulu dan sekitarnya (tidak seluruh wilayah).
Pengerukan dilakukan tapi tidak mengatasi masalah. Pendangkalan terus terjadi dari tahun ke tahun. Kenapa demikian? Wallahualam. Pihak Pelindo la yang punya otoritas untuk menjelaskan hal tersebut.
Ada analisa teknis, posisi Pelabuhan Pulau Baai yang berhadapan dengan samudera lepas memang kurang cocok. Sehingga muncul ide agar pelabuhan dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman dari potensi pendangkalan.
Tapi untuk merealisasikan ide ini butuh waktu bertahun-tahun. Sementara BBM adalah kebutuhan pokok untuk transportasi. Masyarakat tidak bisa disuruh menunggu.
Solusi semetara yang diambil Pertamina sekarang adalah dengan mengalihkan distribusi via darat. Yaitu mendatangkan suplai BBM dari Depo provinsi tetangga.
Yang paling utama dan paling dekat adalah Depo Pertamina Lubuk Linggau. Hanya butuh waktu 3 jam perjalanan.
Sebagai penopang, Pertamina juga mendatangkan pasokan dari Lampung, Jambi dan Sumbar yang jarak tempuhnya lebih lama.
Distribusi jalur darat juga terkadang tidak lancar. Ada risiko hambatan di jalan. Inilah mengapa Pertamina selama ini lebih memilih distribusi jalur laut. Selain lebih lancar, juga lebih hemat biaya.
Depo Pertamina Lubuk Linggau sendiri mendapat pasokan dari kilang minyak di Palembang (Plaju dan Sungai Gerong). Distribusi dari Pelambang menuju Depo Lubuklinggau menggunakan transportasi Kereta Api.
Pada 17 Mei 2025 lalu, distrubisi BBM dari Palembang ke Lubuklinggau mengalami hambatan. Hal ini mengakibatkan stok Depo Linggau menipis dan berimbas ke suplai BBM menuju Bengkulu.
Sampai di sini terlihat bahwa masalah distribusi BBM di Bengkulu cukup kompleks. Tidak sesederhana yang dibayangkan.
Tiga institusi dengan otoritas berbeda, Pertamina, Pelindo dan Pemprov harus bersinergi dan mengatur strategi menjaga ketahanan BBM di Bengkulu.
Tapi itu saja tidak cukup, dalam kondisi darurat Bengkulu bergantung pada suplai BBM dari provinsi tetangga karena kita tidak punya sumber minyak sendiri.
Itu belum ditambah persoalan lain seperti mafia BBM, disparitas harga BBM subsidi dan nonsubsidi dll.
Jadi bersabar saja kawan. Semoga persoalan kelangkaan BBM ini teratasi dan distribusi BBM kembali normal. In Sya Allah.
**Penulis adalah wartawan senior di Bengkulu
| Pancasila di Era Digital: Merawat Persatuan melalui Komunikasi Persuasif |
|
|---|
| OPINI - Di Balik Ompreng MBG Bengkulu: Ada Petani, Dapur, dan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Bergerak |
|
|---|
| Opini: Fenomena Geng Motor di Bengkulu, dari Pergaulan Remaja hingga Ancaman Jalanan |
|
|---|
| Atur Posisi Penumpang, Tapi Abaikan Sistem? Kritik Terhadap Kebijakan Penataan Gerbong KRL |
|
|---|
| Artificial Intelligence dan Kerumunan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kolase-Opini-Zacky285.jpg)