Kamis, 4 Juni 2026

Opini

OPINI: Antara Pertamina, Pelindo dan Helmi Hasan

TIGA pihak dengan otoritas berbeda paling tersudutkan dalam kasus kelangkaan BBM di Bengkulu dan sekitarnya (tidak seluruh wilayah). 

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
Kolase Tribun Bengkulu
OPINI - (kiri) Antrean panjang BBM di SPBU Ujung Karang Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu meski stok di SPBU masih kosong, Senin siang (26/5/2025) (Foto: Suryadi Jaya/TribunBengkulu.com). (kanan) Zacky Antoni, sosok penulis opini dengan judul Antara Pertamina, Pelindo dan Helmi Hasan yang menyoroti soal kelangkaan BBM di Bengkulu. 

Pengerukan dilakukan tapi tidak mengatasi masalah. Pendangkalan terus terjadi dari tahun ke tahun. Kenapa demikian? Wallahualam. Pihak Pelindo la yang punya otoritas untuk menjelaskan hal tersebut. 

Ada analisa teknis, posisi Pelabuhan Pulau Baai yang berhadapan dengan samudera lepas memang kurang cocok. Sehingga muncul ide agar pelabuhan dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman dari potensi pendangkalan.

Tapi untuk merealisasikan ide ini butuh waktu bertahun-tahun. Sementara BBM adalah kebutuhan pokok untuk transportasi. Masyarakat tidak bisa disuruh menunggu.

Solusi semetara yang diambil Pertamina sekarang adalah dengan mengalihkan distribusi via darat. Yaitu mendatangkan suplai BBM dari Depo provinsi tetangga.

Yang paling utama dan paling dekat adalah Depo Pertamina Lubuk Linggau. Hanya butuh waktu 3 jam perjalanan.

Sebagai penopang, Pertamina juga mendatangkan pasokan dari Lampung, Jambi dan Sumbar yang jarak tempuhnya lebih lama. 

Distribusi jalur darat juga terkadang tidak lancar. Ada risiko hambatan di jalan. Inilah mengapa Pertamina  selama ini lebih memilih distribusi jalur laut. Selain lebih lancar, juga lebih hemat biaya. 

Depo Pertamina Lubuk Linggau sendiri mendapat pasokan dari kilang minyak di Palembang (Plaju dan Sungai Gerong). Distribusi dari Pelambang menuju Depo Lubuklinggau menggunakan transportasi Kereta Api. 

Pada 17 Mei 2025 lalu, distrubisi BBM dari Palembang ke Lubuklinggau mengalami hambatan. Hal ini mengakibatkan stok Depo Linggau menipis dan berimbas ke suplai BBM menuju Bengkulu. 

Sampai di sini terlihat bahwa masalah distribusi BBM di Bengkulu cukup kompleks. Tidak sesederhana yang dibayangkan.

Tiga institusi dengan otoritas berbeda, Pertamina, Pelindo dan Pemprov harus bersinergi dan mengatur strategi menjaga ketahanan BBM di Bengkulu.

Tapi itu saja tidak cukup, dalam kondisi darurat Bengkulu bergantung pada suplai BBM dari provinsi tetangga karena kita tidak punya sumber minyak sendiri. 

Itu belum ditambah persoalan lain seperti mafia BBM, disparitas harga BBM subsidi dan nonsubsidi dll.
Jadi bersabar saja kawan. Semoga persoalan kelangkaan BBM ini teratasi dan distribusi BBM kembali normal. In Sya Allah. 

**Penulis adalah wartawan senior di Bengkulu

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved