Kamis, 14 Mei 2026

Siswa SD Belajar di Bawah Pohon

Siswa SD 178 Seluma Bengkulu Belajar di Bawah Pohon, DPRD Panggil Kepala Dinas dan Kepsek

Dewan Akan Panggil Dikbud dan Kepala SDN 178 Seluma Bengkulu. Ketua Komisi 1 Hendri Satrio: Kami Akan Klarifikasi

Tayang:
Penulis: Yayan Hartono | Editor: M Syah Beni
Yayan Hartono/Tribunbengkulu.com
SIAP PERJUANGKAN- Ketua Komisi 1 DPRD Seluma Hendri Satrio, S.Kom, M.Ikom Jum'at petang 27 Juni 2025 mengatakan siap memperjuangkan untuk menganggarkan pembangunan ruang kelas SDN 178 Seluma 

"Kalau dibilang layak, ya tidak layak ruang belajar ini. Namun saya pastikan untuk KBM tetap maksimal," katanya.

Terkait langkah lanjutan terhadap bangunan sekolah yang roboh, Munawarman menyampaikan bahwa pihaknya akan melapor terlebih dahulu kepada Bupati Seluma. Setelah itu, usulan perbaikan akan diajukan guna membangun kembali ruang kelas yang kini tak bisa digunakan sama sekali.

"Kita akan usulkan untuk perbaikan SDN 178 ini. Tapi kami akan sampaikan dulu ini ke Pak Bupati," ucapnya.

Ia menambahkan, terdapat tiga ruang kelas di SDN 178 yang tergabung dalam satu bangunan. Seluruhnya kini ambruk dan tak bisa lagi difungsikan karena membahayakan keselamatan siswa dan guru jika tetap digunakan.

"Kami berusaha untuk melakukan perbaikan. Tahun ini kita akan usulkan, untuk perbaikan tahun depan," pungkas Munawarman.

Rusak Sejak 2007

Sebelumnya diberitakan, puluhan tahun mengalami kerusakan tanpa perbaikan, siswa SD Negeri 178 di Desa Pagar Agung, Kabupaten Seluma, Bengkulu, kini terpaksa belajar di bawah pohon dan rumah dinas guru.

Sejak tiga minggu lalu, aktivitas belajar-mengajar dipindahkan karena salah satu ruang kelas ambruk dan seluruh bangunan sudah tidak layak pakai.

Akibatnya, sebanyak 15 siswa SDN 178 terpaksa belajar di bawah pohon dan rumah dinas guru karena sekolah mereka mengalami kerusakan berat.

Meski pengajuan rehabilitasi telah dilakukan berkali-kali, perbaikan sekolah terus ditolak dengan alasan jumlah siswa yang terlalu sedikit.

Kepala SD Negeri 178, Yudi Wahyu Hidayat, mengungkapkan bahwa kerusakan tiga ruang kelas sudah terjadi sejak tahun 2007, dan kondisinya semakin memburuk dalam lima tahun terakhir.

“Ada tiga ruang kelas yang rusak sejak tahun 2007, namun kerusakan bertambah parah dalam lima tahun terakhir," jelas Yudi saat dihubungi Kompas.com melalui telepon.

"Kami masih belajar di ruang kelas yang rusak selama lima tahun ini."

"Tiga minggu lalu, dinding ruang kelas roboh, sehingga siswa terpaksa belajar di bawah pohon dan di rumah dinas guru."

Yudi menambahkan, meski kondisi ruang kelas rusak parah, siswa tetap belajar di dalamnya selama lima tahun terakhir dengan rasa cemas.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved