Siswa SD Belajar di Bawah Pohon
Siswa SD 178 Seluma Bengkulu Belajar di Bawah Pohon, DPRD Panggil Kepala Dinas dan Kepsek
Dewan Akan Panggil Dikbud dan Kepala SDN 178 Seluma Bengkulu. Ketua Komisi 1 Hendri Satrio: Kami Akan Klarifikasi
Penulis: Yayan Hartono | Editor: M Syah Beni
“Lima tahun ruang kelas rusak parah, kami masih belajar di dalam meski dalam keadaan was-was karena dinding retak, plafon jebol, bocor, dan akhirnya dinding roboh,” ungkapnya.
Saat ini, SDN 178 hanya memiliki 15 siswa karena lokasinya yang terpencil.
Pemerintah sempat merencanakan penggabungan dengan SD terdekat di Desa Muara Simpur yang berjarak sekitar dua kilometer.
Namun, rencana tersebut gagal karena ada jembatan gantung sepanjang 100 meter yang harus dilalui siswa setiap hari.
“Orang tua siswa khawatir, akhirnya rencana penggabungan batal,” kata Yudi.
Yudi menjelaskan bahwa kerusakan sekolah telah terjadi sejak lama.
Selama hampir 10 tahun menjabat sebagai kepala sekolah, ia selalu mengajukan permohonan rehabilitasi setiap tahun, namun tidak pernah disetujui.
“Alasan DPRD menolak perbaikan sekolah karena siswanya sedikit, jadi anggaran perbaikan selalu dicoret,” keluhnya.
Ia pun menyarankan, jika perbaikan gedung sekolah tetap ditolak, maka sebaiknya jembatan gantung diperbaiki agar siswa bisa aman menempuh sekolah di desa terdekat.
“Beberapa hari lalu, kepala dinas pendidikan yang baru mengunjungi sekolah kami dan kami usulkan perbaikan sekolah. Semoga ada harapan di masa depan,” harap Yudi.
Saat ini, SDN 178 memiliki tujuh guru dan satu kepala sekolah yang terus berjuang memberikan pendidikan terbaik meskipun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Kondisi SDN 178 Pagar Agung menjadi potret kesenjangan akses pendidikan di wilayah terpencil.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung dalam lingkungan yang aman dan layak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Hendri-Satrio-Fraksi-PAN-Seluma.jpg)