Senin, 8 Juni 2026

Berita Viral

Dikecam Publik, Bupati Pati Sudewo Batalkan Kenaikan PBB dan Cabut Aturan 5 Hari Sekolah

Bupati Pati, Sudewo, akhirnya mencabut dua kebijakan yang sebelumnya menuai penolakan luas dari masyarakat. 

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
Tribunnews.com
BATALKAN KEBIJAKAN - Bupati Pati Sudewo, akhirnya mencabut dua kebijakan yang sebelumnya menuai penolakan luas dari masyarakat.  

TRIBUNBENGKULU.COM - Bupati Pati, Sudewo, akhirnya mencabut dua kebijakan yang sebelumnya menuai penolakan luas dari masyarakat. 

Selain membatalkan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250 persen, Sudewo juga resmi menghapus aturan lima hari sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Pati.

Langkah pembatalan kenaikan PBB ini diambil usai gelombang kritik dari berbagai elemen masyarakat.

Sudewo menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil demi menjaga stabilitas sosial, menciptakan suasana yang aman dan kondusif, serta menunjang kelancaran roda ekonomi dan pembangunan daerah.

Tak berhenti di situ, kebijakan lima hari sekolah, yang mulai diberlakukan sejak 14 Juli 2025 dan telah menimbulkan kontroversi sejak awal pelaksanaannya, juga akhirnya dihentikan.

Artinya, sistem pembelajaran akan kembali seperti semula, yaitu enam hari sekolah dalam sepekan.

Keputusan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Pati Nomor 400.3.1/303/M tertanggal 8 Agustus 2025, yang mengatur penyesuaian jadwal sekolah sekaligus menekankan pentingnya penguatan karakter peserta didik melalui kegiatan keagamaan.

SK tersebut diserahkan secara simbolis oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Andrik Sulaksono, kepada Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, KH Yusuf Hasyim, Jumat (8/8/2025) siang. Kegiatan ini berlangsung di Kantor PCNU Pati.

Sebelumnya, Alasan Sudewo berencana menerapkan kebijakan itu karena menurutnya jam pelajaran yang lebih panjang justru bisa membuat anak-anak lebih produktif.

"Saya akan membuat kebijakan baru. Anak TK, SD, SMP hanya lima hari sekolah. Supaya otak yang sedang pemanasan, kemudian bekerja untuk selalu berpikir, jangan berhenti di tengah jalan."

"Kalau dia pulang jam 10, jam 11, otak belum bekerja, belum berpikir secara maksimal, dia sudah berhenti dan pulang ke rumah, itu tidak akan produktif," kata Sudewo, Rabu (30/4/2025), dikutip dari TribunJateng.com.

Menurut Sudewo, jika otak dibiasakan bekerja terus dengan cara sekolah sampai sore, kemudian disambung kegiatan mengaji, lalu malam belajar lagi, para pelajar bisa memaksimalkan potensinya.

"Kalau terus dilatih seperti itu, produktivitasnya pasti tinggi. Untuk menghafal dapat kapasitas lebih besar. Sedangkan Sabtu-Minggu libur, refreshing otak, penyegaran kembali, bisa dimanfaatkan untuk acara keluarga bersama orang tua," ucap dia.

Baca juga: Naikkan PBB 250 Persen Sudah Dibatalkan, tapi Demo Bupati Pati Tak Terbendung, Kenapa?

Kekhawatiran Masyarakat

Ketika kebijakan 5 hari sekolah masih menjadi wacana, masyarakat mengkhawatirkan kegiatan keagamaan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) maupun Madrasah Diniyah (Madin) akan terganggu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved