Opini
Opini: Integritas sebagai Fondasi Kemerdekaan Sejati
Kemerdekaan sejati tidak hanya tentang bebas dari penjajahan fisik. Ia juga berbicara tentang kebebasan batin untuk hidup jujur dan konsisten.
**Oleh Desy Handayani (ASN pada Kementerian Keuangan)
TRIBUNBENGKULU.COM - Agustus 2025 membawa kita pada peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.
Delapan dekade yang panjang telah kita lalui: dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, membangun perekonomian, hingga beradaptasi dengan arus globalisasi dan era digital.
Namun, di balik semua pencapaian ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita telah benar-benar merdeka sebagai individu?
Kemerdekaan sejati tidak hanya tentang bebas dari penjajahan fisik. Ia juga berbicara tentang kebebasan batin untuk hidup jujur, konsisten, dan bertanggung jawab. Di sinilah integritas memainkan peran utama.
Bung Hatta pernah berpesan, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat diperbaiki dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki.”
Tanpa integritas, kemerdekaan hanya menjadi simbol tanpa makna; dengan integritas, kemerdekaan menjelma menjadi kekuatan yang membangun kebahagiaan, baik secara pribadi maupun kolektif.
Sayangnya, integritas masih menjadi tantangan serius bagi bangsa kita.
Indeks Persepsi Korupsi (CPI) tahun 2024 menempatkan Indonesia pada skor 37 dari 100, menempatkan peringkat ke-99 dari 180 negara, sinyal bahwa ruang perbaikan masih terbuka lebar, tantangan ini sekaligus refleksi bahwa integritas perlu ditanamkan lebih dalam sebagai nilai dasar bangsa Indonesia.
ASN yang berintegritas adalah kunci terwujudnya pelayanan publik yang transparan dan akuntabel, sekaligus pondasi kepercayaan masyarakat pada negara. Namun, integritas bukan hanya milik ASN atau pejabat publik.
Setiap individu, di level sosial apa pun, memiliki tanggung jawab moral yang sama.
Psikolog Martin Seligman dalam konsep authentic happiness menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati muncul dari pilihan hidup yang bermakna dan berpijak pada nilai-nilai kebaikan.
Contoh nyata dapat kita temukan di sekitar kita. Seorang pedagang kecil yang menolak berbuat curang
meskipun keuntungannya tipis.
Seorang pegawai yang memilih bersikap profesional walau tekanan lingkungan begitu kuat. Seorang pemuda yang mengedepankan proses daripada jalan pintas untuk meraih kesuksesan.
Mereka mencerminkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya: bebas dari godaan ketidakjujuran, tekanan lingkungan, dan rasa cemas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Opini-Integritas-sebagai-Fondasi-Kemerdekaan-Sejati.jpg)