Sabtu, 11 April 2026

Opini

OPINI: Sisi Gelap dari Efisiensi Anggaran Pendidikan

Efisiensi sering menjadi tujuan utama dalam pengelolaan anggaran negara, termasuk dalam bidang pendidikan.

Editor: Yunike Karolina
Kolase Tribun Bengkulu
OPINI - Terang Putri Anti. Penulis opini dengan judul 'Sisi Gelap dari Efisiensi Anggaran Pendidikan' adalah mahasiswa Jurnalistik, Universitas Bengkulu (UNIB). 

 **Oleh Terang Putri Anti

TRIBUNBENGKULU.COM - Efisiensi sering menjadi tujuan utama dalam pengelolaan anggaran negara, termasuk dalam bidang pendidikan.

Para pemerintah dan pembuat kebijakan selalu menyoroti betapa pentingnya efisiensi untuk menjamin bahwa setiap uang yang dikeluarkan memberikan hasil yang optimal.

Namun, di balik dorongan untuk efisiensi ini, terdapat masalah serius yang perlu diperhatikan, seperti penurunan kualitas, ketidakadilan dalam akses, dan bisnis dalam pendidikan. 

Dalam implementasinya, efisiensi sering kali diartikan sebagai pengurangan, seperti mengurangi jumlah tenaga pengajar kontrak, memotong anggaran operasional sekolah, atau menggantikan pelatihan guru secara langsung dengan materi pembelajaran online.

Langkah-langkah ini memang menekan biaya, tetapi pasti ada dampak yang muncul. Pendidikan adalah bidang yang sangat bergantung pada kualitas tenaga pendidik. 

Saat efisiensi dipahami sebagai pengurangan investasi di guru dan sarana, siswa-lah yang pada akhirnya harus menanggung akibatnya.

Efisiensi sering kali ditujukan pada sekolah-sekolah yang berada di lokasi terpencil atau memiliki jumlah siswa yang sedikit, dengan alasan dianggap tidak efisien.

Hal ini mengakibatkan banyak sekolah digabungkan, ditutup, atau hanya mendapatkan dukungan yang sangat minim.

Namun, sebenarnya anak-anak di daerah terpencil membutuhkan dukungan yang lebih intensif untuk dapat mengejar ketertinggalan mereka.

Akibatnya, kesenjangan semakin lebar antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta antara anak-anak dari keluarga kaya dan yang miskin.

Efisiensi juga memberikan peluang bagi masuknya prinsip pasar ke dalam dunia pendidikan. Ketika pemerintah ragu untuk membiayai sepenuhnya sistem pendidikan, swasta mulai memiliki kesempatan untuk mengisi kekurangan tersebut.

Sekolah-sekolah swasta tumbuh subur, tetapi biaya yang dikenakan sering kali tidak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Akibatnya, pendidikan berubah dari sebuah hak menjadi barang komersial hanya mereka yang memiliki kemampuan yang bisa memperolehnya.

Sebagai seorang pelajar yang sedang mengejar pendidikan tinggi, saya mengalami secara langsung dampak dari kebijakan penghematan anggaran pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved