Jumat, 5 Juni 2026

Keracunan Massal di Lebong

Wawancara Eksklusif Ayah Korban Keracunan Massal di Lebong, Curhat Panik dan Tak Percaya Lagi MBG

Ayah korban keracunan massal di Lebong curhat panik, kecewa, hingga putuskan tak izinkan anaknya lagi konsumsi makanan MBG.

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Ricky Jenihansen
M Bima Kurniawan/TribunBengkulu.com
ORANG TUA SISWA - Rahmadianto, orang tua korban keracunan massal di Lebong, saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Jumat (29/8/2025). Ia menceritakan kondisi putrinya, rasa panik dan kecewa, hingga memutuskan tak lagi mengizinkan anaknya mengonsumsi makanan MBG. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
 
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU UTARA - Keracunan massal usai mengonsumsi menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimpa ratusan siswa hingga guru di Kabupaten Lebong pada Rabu (27/8/2025) lalu.

Tercatat sebanyak 456 orang mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program tersebut.

Hingga Minggu (31/8/2025) siang, RSUD Lebong masih merawat 9 orang siswa.

Mereka menjalani perawatan medis lebih lama karena gejalanya cukup berat.

Salah satu korban keracunan massal adalah putri pasangan suami istri Rahmadianto (37) dan Nike Ckriszela (27), berinisial QA (8), yang masih duduk di bangku kelas II SDN 25 Suka Bumi.

Dalam wawancara eksklusif bersama TribunBengkulu.com, Rahmadianto yang akrab disapa Rahmad menceritakan kondisi yang dialami anaknya.

"Anak saya mengeluh perutnya sakit, dan sudah dua hari ini dia tidak masuk sekolah. Terakhir saya tanya, dia mengatakan perutnya masih nyeri," ungkap Rahmad.

Berikut petikan wawancara bersama Rahmadianto (37):

Bisa diceritakan, bagaimana awalnya Bapak/Ibu mengetahui anak mengalami gejala keracunan setelah makan dari program MBG?

"Dia pulang sekolah sekitar pukul 10.30 WIB, kemudian pada pukul 12.00 WIB mengeluh perutnya sakit. Awalnya kami belum menyadari itu keracunan. Setelah melihat postingan di Facebook terkait keracunan, baru kami sadar anak saya mengalami hal yang sama karena pasien di rumah sakit adalah teman sekolahnya," ucap Rahmad.

Gejala apa yang pertama kali dirasakan anak? Mual, muntah, atau yang lain?

"Pertama dia merasakan sakit perut," ujar Rahmad.

Saat itu bagaimana perasaan Bapak/Ibu melihat kondisi anak, apalagi terjadi secara bersamaan dengan teman-teman lainnya?

"Saya panik sekaligus kecewa, bagaimana bisa MBG ini mengandung sesuatu yang tidak baik seperti racun," jelas Rahmad.

Apakah anak langsung dibawa ke rumah sakit atau sempat dirawat di rumah terlebih dahulu?

"Awalnya saya beri air kelapa dan susu untuk menetralisir racunnya. Kemudian sore harinya dia mengeluh perutnya sangat sakit, kepala pusing, mual, dan muntah sehingga saya bawa ke puskesmas," ungkap Rahmad.

Sekarang anak dirawat di mana? Rawat inap, rawat jalan, atau sudah dipulangkan?

"Sudah dibawa pulang, sekitar jam 00.00 WIB keadaannya sudah membaik jadi sudah dibawa pulang," jelas Rahmad.

Sebagai orang tua, apa yang paling Bapak/Ibu khawatirkan dari kejadian ini? Apakah soal keselamatan anak, kualitas makanan, atau dampak kesehatan jangka panjang?

"Saya sebagai orang tua sangat mengkhawatirkan kualitas makanan tadi berdampak pada kesehatan jangka panjang," terang Rahmad.

Apakah Bapak/Ibu masih percaya dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah insiden ini?

"Kami dari keluarga sudah sepakat tidak percaya dan tidak mengizinkan lagi anak kami mengonsumsi MBG," kata Rahmad.

Jika program ini tetap berjalan, apa yang paling Bapak/Ibu harapkan supaya kasus seperti ini tidak terulang?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved