Kamis, 28 Mei 2026

Idul Adha 2026

Makna dan Sejarah Idul Adha yang Identik dengan Haji dan Kurban

Sejarah Idul Adha berkaitan erat dengan kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Tayang:
Editor: Hendrik Budiman
TribunBengkulu.com
IDUL ADHA 2026 - Selamat hari raya Idul Adha 2026. Sejarah Idul Adha berkaitan erat dengan kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Dalam ajaran Islam, Nabi Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. 

Nabi Ibrahim sangat bingung menyikapi mimpinya. Ia tidak lantas membenarkan, namun tidak pula mengingkari.

Nabi Ibrahim merenunginya beberapa kali dan memohon kepada Allah untuk memberi petunjuk yang benar kepada-Nya.

Setelah malam yang sangat membingungkan itu selesai, ternyata malam kedua juga datang kepadanya mimpi yang sama, begitupun dengan malam ketiga.

Setelah mimpinya yang ketiga, barulah Nabi Ibrahim meyakini dan membenarkan, bahwa mimpi itu benar-benar nyata dan harus dilaksanakan.

Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya pada anak semata wayangnya. Dalam Al-Qur’an Allah mengisahkan cerita itu, yaitu:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya, “Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (Surat As-Saffat ayat 102).

Sebagai sosok yang taat pada perintah Allah, Nabi Ibrahim dan nabi Simail melakukan apa yang diperintahkan Allah. Meski dengan hati yang bersedih karena anak kesayangannya harus dikurbankan, disembelih, dan dilakukan Nabi Ibrahim sendiri.

Setelah Nabi Ibrahim dan ismail sepakat, untuk melakukan penyembelihan, Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail ke Mina dan membaringkannya di atas pelipisnya, sambil menangis akhirnya Nabi Ibrahim mengambil pisau untuk menyembelih Nabi Ismail dan diletakkan tepat di leher snag anak.

Namun keajaiban datang dari Allah. Pisau itu ternyata sama sekali tidak melukai Nabi Ismail.

Beberapa kali Nabi Ibrahim mengulanginya, namun tetap sebagaimana semula. Jangankan melukai, bahkan pisau itu tidak memberi bekas apa pun pada anak semata wayangnya itu.

Saat itulah Allah menurunkan firman-Nya, sekaligus menjawab berbagai pertanyaan itu. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ.

Artinya, “Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” (Surat As-Saffat ayat 104-108).

Dan dari sinilah kenapa hari Raya Idul Adha diperingati dengan momen penyembelihan hewan kurban.

 

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved