Rabu, 13 Mei 2026

Warga Tersengat Ubur ubur Biru

Waspada, Kenali Ubur-ubur Bluebottle dan Cara Penanganan Awal, Muncul di Pantai Berkas Bengkulu

Fenomena kemunculan biota laut ubur-ubur berwarna biru atau bluebottle di perairan Pantai Berkas Kota Bengkulu ikut direspon akademisi Unib.

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Yunike Karolina
Bima Kurniawan/TribunBengkulu.com
Fenomena kemunculan biota laut ubur-ubur berwarna biru atau bluebottle di perairan Pantai Berkas Kota Bengkulu ikut direspon akademisi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu (Unib), Mukti Dono Wilopo. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Fenomena kemunculan biota laut ubur-ubur berwarna biru atau bluebottle di perairan Pantai Berkas Kota Bengkulu ikut direspon akademisi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu (Unib), Mukti Dono Wilopo.

Biota laut yang disebut nelayan lokal 'piar ayam' ini sudah menyebabkan setidaknya 8 warga dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara akibat terkena sengatannya, pada Sabtu sore (24/8/2024).

"Satu filum dengan ubur-ubur, tapi bukan ubur-ubur sejati. Sebenarnya namanya adalah portuguese man of war atau siphonophore, organisme yang terdiri dari koloni hewan kecil yang bekerja sama sebagai satu kesatuan. Berbeda dengan ubur-ubur sejatinya yang merupakan organisme tunggal," ujar Mukti, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Laboratorium Perikanan dan Ilmu Kelautan Unib

Selain itu terdapat pula perbedaan lainnya antara dua biota laut ini. Perbedaan utama lainnya adalah Portuguese man-of-war memiliki kantung udara yang memungkinkannya mengapung di permukaan air, serta tentakel yang bisa mencapai panjang hingga 30 meter, jauh lebih panjang dari kebanyakan ubur-ubur sejatinya.

Hal tersebut membuat sengatannya juga cenderung lebih berbahaya dan menyakitkan dibandingkan dengan ubur-ubur pada umumnya. 

"Gejala yang dapat ditimbulkan seperti kesulitan bernapas, nyeri dada, atau reaksi alergi parah. Dalam kasus seperti ini, atau jika rasa sakit tetap intens, segera cari bantuan medis dan dibawa ke ICU," lanjut dosen Ilmu Kelautan Unib ini.

Untuk penanganan pertama jika terkena sengatan ubur-ubur bluebottle ini, kata Mukti, korban harus keluar dari air dan menghindari menyentuh area yang terkena sengatan.  

"Disarankan segera bilas area tersebut dengan air laut sebanyak-banyaknya, bukan air tawar, karena air tawar dapat memicu pelepasan lebih banyak racun," kata Mukti. 

Hindari menyentuh, menggaruk atau menggosok area yang terkena, karena dapat memperparah sengatan serta jangan gunakan cuka, karena tidak efektif untuk sengatan. 

"Gunakan pinset atau tangan yang terlindungi sarung tangan untuk dengan hati-hati apabila masih ada sisa tentakel yang mungkin masih menempel pada kulit," jelas Mukti. 

Setelahnya dikompres air hangat (sekitar 45°C) pada area yang terkena selama 20 menit, karena panas dapat membantu mengurangi rasa sakit dengan menonaktifkan racun.

Menurut Mukti, alasan ubur-ubur bluebottle bisa muncul di perairan Bengkulu disebabkan sejumlah faktor. Seperti pergerakan arus laut dan angin yang membawa mereka dari habitat asli di laut lepas menuju pantai. Bisa juga karena kelimpahan makanan di perairan pantai, seperti plankton dan ikan kecil. 

"Selain itu, perubahan ekosistem laut akibat aktivitas manusia, seperti overfishing yang mengurangi predator alami mereka salah satunya adalah penyu, dapat meningkatkan populasi dan penyebarannya," beber Mukti.

Baca juga: 8 Warga Tersengat Ubur-ubur Biru di Pantai Berkas Bengkulu, Nelayan Keliling Peringati Pengunjung

Cerita Korban

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved