Rabu, 13 Mei 2026

Uang Palsu UIN Alauddin Makassar

Tak Menyesal Syahruna Operator Pencetak Uang Palsu di UIN Makassar Sayangkan Dirinya Belum Mahir

Syahruna operator pencetak uang palsu di UIN Makassar, justru tak menyesali perbuatannya.

Tayang:
Editor: Yuni Astuti
Kolase TribunBengkulu.com
Kolase foto Syahruna. Tak Menyesal Syahruna Operator Pencetak Uang Palsu di UIN Makassar Sayangkan Dirinya Belum Mahir 

TRIBUNBENGKULU.COM - Syahruna operator pencetak uang palsu di UIN Makassar, justru tak menyesali perbuatannya.

Ia malah mengaku menyesal karena tak mengusai mesin pencetak uang palsu.

Diketahui jika produksi uang palsu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mencapai Rp 100 juta sekali operasi.

Diakui Syahruna meski ia menjadi operator mesin pencetak uang, dirinya menyesal belum menguasai mesin.

Hal ini rupanya jika ia menguasai operasional mesin cetakan tersebut, uang palsu yang dihasilkan bisa mencapai triliunan sekali produksi.

Syahruna menceritakan tentang produksi uang palsu di UIN Makassar.

Syahruna berperan untuk memproduksi uang palsu.

Ia mengatakan uang palsu dalam satu kertas pasti ada yang gagal.

"Banyakan rusak sama warnanya blepotan. Gak ada (diedarkan). Setiap memproduksi sekitar 50-60 persen itu rusak. Jadi ndak semua kita produksi sesuai dengan ini karena peralatan kami masih minim," katanya.

Syahruna mengungkap ada 19 tahapan proses sampai uang palsu benar-benar menjadi sempurna.

"Salah satu saja rusak maka gagal, dibuang. Dari 19 itu harus mulus semua," katanya.

Pencetakan dimulai dari tali air, benang sampai UV.

Sekali produksi mereka membutuhkan modal Rp 300 juta.

Baca juga: Mengapa Pelaku Uang Palsu UIN Makassar, Doktor Andi Ibrahim Cs Hanya Cetak Pecahan Rp 100 Ribu?

Semua bahan dibeli dari China kata Syahruna.

"Satu hari tahap pertama sekitar satu rim, 1.000 lembar. Kalau 200-an satu rim sekitar Rp 100 juta sekali produksi," katanya.

Produksi uang palsu ini dilakukan dalam perpustakaan UIN Makassar.

"Di dalam perpustakaan lantai bawah, dalam kamar mandi. Sengaja disekat untuk aktivitas supaya peredam gak kedengaran. Jendela semua ditutup," katanya.

Biasanya mereka bekerja memproduksi uang palsu saat jam kerja agar tidak dicurigai.

"Terkadang pagi jam 11 sampai jam 5 sore. Menjelang akhir sering lembur sampai pagi.  Kampus ramai cuma kami dianjurkan untuk jam kerja saja. Kalau malam agak bunyi menyimpang, sekuriti sering lewat," katanya.

Produksi uang palsu ini rupanya berkedok cetak brosur kampus.

"Mereka pikir kita cetak brosur kampus. Jadi mereka waktu kita cetak brosur sengaja buka pintu, jadi karyawan lihat oh lagi cetak brosur padahal itu hanya ngetes saja untuk kasih jalan," katanya.

Mesin cetak yang dipakai pun khusus, berbeda dengan yang lain.

"Mesin cetak khusus karena tingkat presisinya lebih tinggi lebih akurat," katanya.

Syahruna menyayangkan belum bisa menguasai operasional mesin.

Sebab menurutnya jika menguasai produksi akan bisa lebih cepat dan sempurna.

Tak ayal kata Syahruna, jika sudah mahir maka mesin itu bisa mencetak uang palsu sampai triliunan.

"Cuma sayangnya belum sempat mahir. Andaikan bisa berjalan kemungkinan 2-3 hari tuh habis bahan itu bisa memproduksi," katanya.

Andi Ibrahim.
Andi Ibrahim. (TribunTimur)

Respon Bank Indonesia soal Uang Palsu Masuk ATM

Bank Indonesia (BI) menjamin mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) aman dari uang palsu.

Deputi Direktur Bank Indonesia Sulsel, Edy Kristianto mengatakan, mesin ATM menolak uang palsu.

Dalam mesin ATM terdapat sensor manusia dan kontrol sensor pada mesin ATM.

Sehingga jika seseorang memasukkan uang palsu di mesin ATM automatis tertolak. 

"Untuk ATM setor tunai paling susah dimasukkin (uang palsu) karena selain kontrol manusia juga ada kontrol sensor jadi ketolak," jelasnya di Kantor Tribun Timur Jl Cenderawasih No 430, Makassar, Jumat (20/12/2024) malam.

Olehnya itu, dia menegaskan BI akan bekerja semaksimal mungkin.

Uang Terkelupas

Sementara itu, Bank Indonesia juga menilai cara mengecek keaslian uang dengan mengelupasnya adalah cara yang keliru.

Pelaksana Pengelolaan Uang Rupiah KPW BI Sulsel, Muslimin menegaskan cara tersebut tidaklah benar untuk menguji keaslian uang.

"Membelah uang viral di medsos adalah cara kurang tepat untuk mengenali keaslian uang rupiah," kata Muslimin di Pasar Minasa Maupa, Gowa usai sosialisasi ke warga, Senin (23/12/2024) siang.

Muslimin menyebut cara 3D menjadi upaya mengenali uang palsu atau tidak.

Yakni mulai dari dilihat, diraba lalu diterawang.

"Cara benar dengan 3D. Jadi Dilihat, diraba, diterawang bukan dikelupas. Dilihat warnananya telihat terang, diraba ada beberapa item yang terasa kasar. Diterawang ada gambar pahlawan dan gambar saling isi. Diluar itu berarti palsu," kata Muslimin.

Masyarakat diminta tidak gegabah dalam mencoba menguji keaslian uang dengan cara mengelupas.

Muslimin mencontohkan ada beberapa masyarakat dengan sengaja mengelupas uang.

Padahal uang tersebut teruji keasliannya oleh Bank Indonesia.

"Yang terkelupas kebanyakan yang tadi pagi datang lapor, setelah kita klarifikasi benar memenuhi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan dinyatakan asli," lanjutnya.

Muslimin mengaku uang asli yang terkelupas, bisa ditukarkan ke Bank Indonesia.

Sementara untuk uang palsu, tetap tidak dapat ditukarkan.

Jika ragu terhadap keaslian uang, ada beberapa cara bisa ditempuh masyarakat.

Pertama, jangan membelanjakan uang yang diragukan keasliannya.

Sebab jika terbukti palsu, hal itu melanggar peraturan Undang-Undang (UU).

"Uang yang diragukan harus diminta klarifikasi pada bank terdekat atau bank indonesia," kata Muslimin.

"Atau bisa melaporkan dugaan pemalsuan di kantor polisi terdekat," lanjutnya.

Hal ini menurutnya perlu dipahamkan ke masyarakat. 

Pasalnya sedang viral aksi banyak masyarakat yang membelah atau mengelupas uang untuk menguji keasliannya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved