Kisah Inspiratif Iqbal Rasyid

Sosok Iqbal Rasyid di Mata Guru: Anak Kuli dari Bengkulu Tembus FK UI, Punya Kebiasaan Belajar Unik

Anak kuli asal Bengkulu, Iqbal Rasyid, viral usai dijemput Wakil Dekan FK UI. Siswa teladan ini punya kebiasaan belajar unik dan prestasi segudang.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Ricky Jenihansen
HO TribunBengkulu.com
SOSOK IQBAL - Iqbal Rasyid Achmad Faqih, siswa MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Kamis (19/6/2025). Dikenal sosok teladan dan menginspirasi di sekolah. 

Salah satu pencapaian gemilangnya saat SMP adalah ketika ia mewakili Provinsi Bengkulu dalam ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN), yang kini dikenal sebagai Olimpiade Sains Nasional (OSN), dan berhasil meraih medali perunggu di bidang IPA.

Perjalanan prestasi Iqbal terus berlanjut ketika ia melanjutkan pendidikan di MAN Insan Cendekia Bengkulu Tengah melalui beasiswa prestasi. 

Di madrasah tersebut, Iqbal semakin mengasah kemampuannya di bidang fisika, riset, dan debat Bahasa Indonesia.

Ia sering menjadi juara lomba tingkat provinsi dan kembali mewakili Bengkulu di ajang nasional, yakni Kompetisi Sains Madrasah (KSM) di Ternate, Maluku Utara.

Semangat belajarnya tak pernah surut. Menjelang akhir masa sekolah, Iqbal mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) untuk masuk UI.

Sejak semester pertama kelas 12, ia mencicil materi UTBK, rutin mengikuti tryout, membentuk kelompok belajar, dan menjalani bimbingan intensif dari madrasah.

Libur sekolah bukan waktu bersantai bagi Iqbal. Ia dan teman-temannya justru memilih menghabiskan waktu di Perpustakaan Daerah Bengkulu untuk belajar dari pagi hingga sore. 

Malam harinya, mereka belajar bersama di rumah secara bergantian. 

Rutinitas itu dijalani hampir setiap hari, dengan satu tujuan: lulus Kedokteran UI.

Usaha keras itu pun membuahkan hasil. Meski sempat gagal di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Iqbal akhirnya lolos melalui jalur SNBT ke Fakultas Kedokteran UI. 

Ia menyebut konsistensi dan semangat belajar sebagai kunci keberhasilannya.

"Yang penting bukan hanya rajin belajar, tapi juga menjaga kondisi mental agar tidak burnout. Cari lingkungan belajar yang nyaman dan terus evaluasi diri," ujarnya.

Kini, Iqbal tengah mencari beasiswa untuk membiayai kuliahnya. 

Biaya pendidikan dan hidup di Jakarta yang cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri. 

Namun hal itu justru memotivasinya untuk terus berprestasi dan menjadi pribadi yang mandiri.

“Saya tidak ingin membebani orang tua. Harapan saya bisa menjalani kuliah dengan lancar dan membanggakan mereka,” kata Iqbal, dilansir laman Pendis Kemenag.

Sang ayah, Agus Hermanto, tak mampu menyembunyikan haru dan rasa syukurnya.

"Saya siap berkorban apa pun demi anak saya. Meski penghasilan saya pas-pasan, saya percaya anak saya akan berhasil dengan ketekunannya dan pertolongan Allah," tutur Agus.

Kisah Iqbal menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa diraih siapa pun, selama ada kerja keras, ketekunan, dan doa yang tak henti dipanjatkan.

Iqbal Kecil di Mata Ibunda

Sejak kecil, Iqbal menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu.

Bahkan sebelum berusia lima tahun, ia sudah mampu membaca dan mengaji.

Ibunya, Suhaima, mengajarkan huruf-huruf dan ayat-ayat Alquran secara perlahan.

Buku-buku pertama Iqbal adalah kisah-kisah para nabi, bukan dongeng atau cerita rekaan.

“Anak ini memang daya ingin tahunya itu tinggi, dan dari kecil dia memang suka baca,” kata Suhaima, merendah.

Iqbal kecil terbiasa meminjam buku milik kakaknya yang duduk di bangku SMP.

Ia tak segan membuka halaman demi halaman, meski belum semua pelajaran ia pahami.

Peta-peta negara, nama-nama ibu kota, dan luas wilayah menjadi permainan pikirannya.

Kebiasaan belajar Iqbal bukanlah sekadar rutinitas, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Ia sering mengajak teman-temannya ke rumah, bukan untuk bermain, tapi untuk belajar bersama.

 Seringkali mereka saling menginap, bergantian antara rumah Iqbal dan rumah temannya, demi menyelesaikan soal atau diskusi pelajaran.

"Kadang sama teman-temannya ngerjain soal sampai nginap," kata Suhaima.

Di sekolah, Iqbal menempuh pendidikan di MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah, sekolah unggulan berbasis agama dan akademik.

Di sana, karakter dan kecerdasannya semakin terasah, tanpa mengubah sifat dasarnya yang rendah hati dan penurut.

“Anaknya sopan, kalau mau ke mana-mana selalu pamit. Saya selalu ingatkan, di mana pun berada jangan lupa salat,” ujar Suhaima.

Selain itu, ada kebiasaan unik yang dijalani Iqbal sejak SMP.

Setiap kali ia memiliki target besar, ia akan bernazar untuk melaksanakan puasa sunnah apabila berhasil mencapainya.

Termasuk saat mengikuti tes masuk FK UI, ia kembali bernazar.

Begitu diumumkan lulus, ia menepati nazarnya: puasa Daud selama dua minggu penuh.

"Ini Iqbal baru selesai membayar nazarnya," kata Suhaima.

Perjalanan Iqbal hingga ke Fakultas Kedokteran UI bukanlah hal yang mudah.

Ia bersaing dengan lebih dari 3.000 peserta lain.

Sebelum tes, ia mempelajari passing grade, membeli buku soal secara daring, ikut try out, dan memperbanyak ibadah.

Saat hari ujian tiba, Iqbal bahkan tak sempat sarapan. Lapar yang datang di tengah ujian sempat membuatnya kehilangan fokus.

Skor yang ia dapatkan adalah 757—hanya sedikit di atas batas minimal kelulusan yang ditetapkan, yaitu 750.

Namun skor itu cukup. Ia diterima.

Dan hari itu, di rumah kecil dengan atap seng dan lantai semen yang mulai retak, harapan besar lahir kembali.

Bukan hanya untuk keluarga Iqbal, tapi untuk siapa pun yang percaya bahwa kemiskinan bisa dikalahkan oleh pengetahuan dan ketekunan.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved