Kisah Inspiratif Iqbal Rasyid

Sosok Iqbal Rasyid di Mata Guru: Anak Kuli dari Bengkulu Tembus FK UI, Punya Kebiasaan Belajar Unik

Anak kuli asal Bengkulu, Iqbal Rasyid, viral usai dijemput Wakil Dekan FK UI. Siswa teladan ini punya kebiasaan belajar unik dan prestasi segudang.

Penulis: Beta Misutra | Editor: Ricky Jenihansen
HO TribunBengkulu.com
SOSOK IQBAL - Iqbal Rasyid Achmad Faqih, siswa MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Kamis (19/6/2025). Dikenal sosok teladan dan menginspirasi di sekolah. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Iqbal Rasyid Achmad Faqih, anak seorang kuli bangunan asal Bengkulu, tengah menjadi sorotan setelah berhasil lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), salah satu kampus paling bergengsi di Indonesia.

Namanya mendadak viral di media sosial usai dijemput langsung oleh Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UI, Dwiana Ocviyanti, yang datang ke rumahnya di Kelurahan Kebun Geran, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, pada Selasa (17/6/2025).

Momen saat Iqbal dijemput kemudian tersebar luas di berbagai platform media sosial dan dibagikan oleh banyak akun, sehingga menarik perhatian masyarakat, khususnya di Bengkulu.

Meski berasal dari keluarga sederhana, Iqbal mampu mencatatkan berbagai prestasi membanggakan selama bersekolah di MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah.

Di mata para gurunya, Iqbal dikenal sebagai siswa teladan yang menginspirasi lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikan wali kelasnya, Raidatul Fannyda, saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Rabu (18/6/2025).

Selama di kelas, Iqbal dikenal sebagai siswa yang disiplin, tidak pernah datang terlambat, selalu hadir tepat waktu, serta aktif dalam setiap sesi pembelajaran.

Tak hanya cerdas, Iqbal juga dikenal ringan tangan membantu teman-temannya yang kesulitan memahami pelajaran. Ia kerap menjadi tutor bagi teman sekelasnya, menjelaskan materi dengan sabar dan jelas.

“Apabila ada materi pembelajaran yang tidak dipahami oleh teman-temannya, dia biasanya sangat terbuka dengan teman-temannya,” ungkap Fannyda.

Fannyda juga mengungkapkan bahwa Iqbal memiliki kebiasaan belajar yang cukup unik. Di luar kelas, ia sering belajar sambil mendengarkan musik menggunakan headset—kebiasaan yang mungkin tak umum, namun ternyata efektif bagi dirinya.

Meski demikian, kebiasaan tersebut hanya dilakukan di luar jam pelajaran. Saat berada di kelas, Iqbal tetap fokus dan mengikuti pelajaran sesuai aturan.

“Namun kebiasaan tersebut hanya ia lakukan saat berada di luar kelas saja, sedangkan saat sedang berada di dalam kelas dia tidak melakukan hal tersebut,” jelas Fannyda.

Secara terpisah, Kepala MAN IC Bengkulu Tengah, Julita, menyatakan rasa bangganya atas pencapaian Iqbal yang berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UI.

Menurut Julita, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Iqbal, tetapi juga bagi para guru dan seluruh keluarga besar madrasah.

Iqbal mulai menempuh pendidikan di MAN IC Bengkulu Tengah sejak tahun 2022. Sejak awal, ia memilih jurusan kesehatan yang sesuai dengan cita-citanya menjadi seorang dokter.

“Keputusan ini terbukti tepat, karena ia berhasil lulus dengan nilai memuaskan, yang menjadi modal penting dalam perjuangannya mengikuti tes seleksi masuk Fakultas Kedokteran UI,” tutup Julita.

IQBAL RASYID - Iqbal Rasyid Achmad Faqih dengan sejumlah piagam penghargaan serta medali prestasinya. Iqbal Rasyid, tembus Fakultas Kedokteran UI berbekal 17 prestasi hingga tingkat internasional.
IQBAL RASYID - Iqbal Rasyid Achmad Faqih dengan sejumlah piagam penghargaan serta medali prestasinya. Iqbal Rasyid, tembus Fakultas Kedokteran UI berbekal 17 prestasi hingga tingkat internasional. (TribunBengkulu.com/Beta Misutra)

Sederet Prestasi Iqbal

Kisah Iqbal menjadi sumber inspirasi dan haru, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tak menjadi penghalang untuk meraih prestasi gemilang.

Iqbal tercatat meraih 17 prestasi sepanjang masa pendidikannya di MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah, sejak masuk pada tahun 2022 hingga lulus.

Prestasi tersebut diraihnya dari berbagai ajang lomba tingkat kabupaten, provinsi, regional Sumbagsel, nasional, hingga internasional.

Berikut daftar lengkap prestasi Iqbal berdasarkan data MAN IC Bengkulu Tengah:

  • Juara 1 LCT Fisika SMA se-Sumbagsel dalam rangka Pekan Orientasi Ilmiah Fisika (POIF) XXIV Plus, 2022
  • Juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Fisika tingkat Kabupaten Bengkulu Tengah, 2023
  • Peserta Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), 2023
  • Juara 2 Kompetisi Sains Madrasah (KSM) bidang Fisika tingkat Kabupaten Bengkulu Tengah, 2023
  • Peserta Program Persiapan Studi Lanjut (PPSL) S1 Program Non-Gelar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama, 2023
  • Juara 3 Bintang Fisika Raflesia dalam rangka POIF tingkat Provinsi Bengkulu, 2023
  • Juara 2 Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) tingkat Provinsi Bengkulu, 2024
  • Juara 2 MAHONI Debat Bahasa Indonesia tingkat Provinsi Bengkulu, 2024
  • Juara 1 OSN bidang Fisika tingkat Kabupaten Bengkulu Tengah, 2024
  • Juara 1 KSM bidang Fisika tingkat Kabupaten Bengkulu Tengah, 2024
  • Juara 1 KSM bidang Fisika tingkat Provinsi Bengkulu, 2024
  • Peserta Design Thinking Workshop Samsung Solve for Tomorrow tingkat nasional, 2024
  • Juara 1 Bintang Fisika Raflesia dalam rangka POIF tingkat Provinsi Bengkulu, 2024
  • Juara 1 LCT Fisika SMA se-Sumbagsel dalam rangka POIF XXIV Plus tingkat Provinsi Bengkulu, 2024
  • Peserta KSM bidang Fisika tingkat nasional, 2024
  • Peraih medali perak International Science and Invention Fair (ISIF) Online Competition Education Category tingkat internasional, 2024
  • Peserta Learning Camp Beasiswa Perintis Persiapan UTBK Nasional, 2024

Prestasi luar biasa tersebut menjadi bukti kerja keras dan dedikasi Iqbal, hingga ia berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran UI.

Momen Iqbal Rasyid Raih Medali Perak di Ajang Internasional

Salah satu capaian tertinggnya adalah berhasil meraih medali perak dalam ajang internasional.

Iqbal meraih medali perak dalam ajang internasional yang diikutinya bersama tim pada November 2024 lalu. 

Medali tersebut diperoleh setelah mereka mengikuti International Science and Invention Fair (ISIF) dalam kategori Online Competition Education.

Dalam kompetisi tersebut, Iqbal dan timnya mengangkat riset mengenai pengelolaan kebutuhan petani. 

Mereka membuat konten edukasi berbasis teknologi menggunakan aplikasi Blender, perangkat lunak pemodelan dan animasi 3D.

Hasil konten itu kemudian diintegrasikan ke dalam aplikasi Augmented Reality (AR).

“Dalam artian mengedukasi para petani di Indonesia ini agar memenuhi goals-nya SDGs itu. Tapi dia mengenalinya itu lewat media AR dan benar-benar itu dibuat pakai Blender,” ungkap Yudi Maulana, guru Fisika sekaligus pembimbing olimpiade Iqbal.

Ajang ISIF diikuti ribuan peserta dari berbagai negara, seperti Korea Selatan, Thailand, Vietnam, hingga sejumlah negara di Eropa, termasuk Meksiko.

Tak sembarangan, peserta yang ingin mengikuti ISIF harus melewati proses seleksi yang ketat sebelum lolos sebagai finalis.

“Mereka yang menilai itu bahkan bukan dari lingkup seperti dosen biasa, namun sudah lingkup profesor, kemudian dari BRIN juga yang jadi jurinya,” jelas Yudi.

ISIF tahun itu diselenggarakan secara hybrid, baik luring maupun daring. Iqbal dan timnya mengikuti kompetisi secara daring.

Hasilnya, mereka berhasil masuk 10 besar dan meraih medali perak yang diberikan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA), Departemen Aktuaria Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro.

IQBAL RASYID - Iqbal Rasyid bersama ibunya saat ditemui TribunBengkulu.com di rumahnya Kamis (19/6/2025). Iqbal merupakan anak kuli bangunan yang lulus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan sempat didatangi langsung oleh Wakil Dekan FK UI.
IQBAL RASYID - Iqbal Rasyid bersama ibunya saat ditemui TribunBengkulu.com di rumahnya Kamis (19/6/2025). Iqbal merupakan anak kuli bangunan yang lulus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dan sempat didatangi langsung oleh Wakil Dekan FK UI. (Beta Misutra/TribunBengkulu.com)

Anak Kuli Bangunan

Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah perjuangan dari keluarga sederhana. 

Ayahnya adalah seorang buruh harian lepas, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Namun keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangat Iqbal untuk meraih cita-cita menjadi seorang dokter.

Lahir pada 30 Juni 2007 di Bengkulu, Iqbal tumbuh dalam lingkungan serba terbatas. 

Sang ayah, Agus Hermanto, bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya, Suhaima, mengurus rumah tangga.

Meski demikian, Iqbal tak menyerah pada keadaan.

Sejak duduk di bangku SMP Negeri 1 Kota Bengkulu, ia sudah menunjukkan semangat dan ketekunan tinggi dalam belajar. 

Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan seperti cerdas cermat, olimpiade sains, riset ilmiah, hingga lomba hadits, dan berhasil meraih banyak prestasi dari tingkat kota hingga nasional.

Salah satu pencapaian gemilangnya saat SMP adalah ketika ia mewakili Provinsi Bengkulu dalam ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN), yang kini dikenal sebagai Olimpiade Sains Nasional (OSN), dan berhasil meraih medali perunggu di bidang IPA.

Perjalanan prestasi Iqbal terus berlanjut ketika ia melanjutkan pendidikan di MAN Insan Cendekia Bengkulu Tengah melalui beasiswa prestasi. 

Di madrasah tersebut, Iqbal semakin mengasah kemampuannya di bidang fisika, riset, dan debat Bahasa Indonesia.

Ia sering menjadi juara lomba tingkat provinsi dan kembali mewakili Bengkulu di ajang nasional, yakni Kompetisi Sains Madrasah (KSM) di Ternate, Maluku Utara.

Semangat belajarnya tak pernah surut. Menjelang akhir masa sekolah, Iqbal mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) untuk masuk UI.

Sejak semester pertama kelas 12, ia mencicil materi UTBK, rutin mengikuti tryout, membentuk kelompok belajar, dan menjalani bimbingan intensif dari madrasah.

Libur sekolah bukan waktu bersantai bagi Iqbal. Ia dan teman-temannya justru memilih menghabiskan waktu di Perpustakaan Daerah Bengkulu untuk belajar dari pagi hingga sore. 

Malam harinya, mereka belajar bersama di rumah secara bergantian. 

Rutinitas itu dijalani hampir setiap hari, dengan satu tujuan: lulus Kedokteran UI.

Usaha keras itu pun membuahkan hasil. Meski sempat gagal di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Iqbal akhirnya lolos melalui jalur SNBT ke Fakultas Kedokteran UI. 

Ia menyebut konsistensi dan semangat belajar sebagai kunci keberhasilannya.

"Yang penting bukan hanya rajin belajar, tapi juga menjaga kondisi mental agar tidak burnout. Cari lingkungan belajar yang nyaman dan terus evaluasi diri," ujarnya.

Kini, Iqbal tengah mencari beasiswa untuk membiayai kuliahnya. 

Biaya pendidikan dan hidup di Jakarta yang cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri. 

Namun hal itu justru memotivasinya untuk terus berprestasi dan menjadi pribadi yang mandiri.

“Saya tidak ingin membebani orang tua. Harapan saya bisa menjalani kuliah dengan lancar dan membanggakan mereka,” kata Iqbal, dilansir laman Pendis Kemenag.

Sang ayah, Agus Hermanto, tak mampu menyembunyikan haru dan rasa syukurnya.

"Saya siap berkorban apa pun demi anak saya. Meski penghasilan saya pas-pasan, saya percaya anak saya akan berhasil dengan ketekunannya dan pertolongan Allah," tutur Agus.

Kisah Iqbal menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa diraih siapa pun, selama ada kerja keras, ketekunan, dan doa yang tak henti dipanjatkan.

Iqbal Kecil di Mata Ibunda

Sejak kecil, Iqbal menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu.

Bahkan sebelum berusia lima tahun, ia sudah mampu membaca dan mengaji.

Ibunya, Suhaima, mengajarkan huruf-huruf dan ayat-ayat Alquran secara perlahan.

Buku-buku pertama Iqbal adalah kisah-kisah para nabi, bukan dongeng atau cerita rekaan.

“Anak ini memang daya ingin tahunya itu tinggi, dan dari kecil dia memang suka baca,” kata Suhaima, merendah.

Iqbal kecil terbiasa meminjam buku milik kakaknya yang duduk di bangku SMP.

Ia tak segan membuka halaman demi halaman, meski belum semua pelajaran ia pahami.

Peta-peta negara, nama-nama ibu kota, dan luas wilayah menjadi permainan pikirannya.

Kebiasaan belajar Iqbal bukanlah sekadar rutinitas, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Ia sering mengajak teman-temannya ke rumah, bukan untuk bermain, tapi untuk belajar bersama.

 Seringkali mereka saling menginap, bergantian antara rumah Iqbal dan rumah temannya, demi menyelesaikan soal atau diskusi pelajaran.

"Kadang sama teman-temannya ngerjain soal sampai nginap," kata Suhaima.

Di sekolah, Iqbal menempuh pendidikan di MAN Insan Cendekia (IC) Bengkulu Tengah, sekolah unggulan berbasis agama dan akademik.

Di sana, karakter dan kecerdasannya semakin terasah, tanpa mengubah sifat dasarnya yang rendah hati dan penurut.

“Anaknya sopan, kalau mau ke mana-mana selalu pamit. Saya selalu ingatkan, di mana pun berada jangan lupa salat,” ujar Suhaima.

Selain itu, ada kebiasaan unik yang dijalani Iqbal sejak SMP.

Setiap kali ia memiliki target besar, ia akan bernazar untuk melaksanakan puasa sunnah apabila berhasil mencapainya.

Termasuk saat mengikuti tes masuk FK UI, ia kembali bernazar.

Begitu diumumkan lulus, ia menepati nazarnya: puasa Daud selama dua minggu penuh.

"Ini Iqbal baru selesai membayar nazarnya," kata Suhaima.

Perjalanan Iqbal hingga ke Fakultas Kedokteran UI bukanlah hal yang mudah.

Ia bersaing dengan lebih dari 3.000 peserta lain.

Sebelum tes, ia mempelajari passing grade, membeli buku soal secara daring, ikut try out, dan memperbanyak ibadah.

Saat hari ujian tiba, Iqbal bahkan tak sempat sarapan. Lapar yang datang di tengah ujian sempat membuatnya kehilangan fokus.

Skor yang ia dapatkan adalah 757—hanya sedikit di atas batas minimal kelulusan yang ditetapkan, yaitu 750.

Namun skor itu cukup. Ia diterima.

Dan hari itu, di rumah kecil dengan atap seng dan lantai semen yang mulai retak, harapan besar lahir kembali.

Bukan hanya untuk keluarga Iqbal, tapi untuk siapa pun yang percaya bahwa kemiskinan bisa dikalahkan oleh pengetahuan dan ketekunan.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved