Rabu, 27 Mei 2026

Berita DPRD Provinsi Bengkulu

DPRD Bengkulu Imbau Perusahaan Sawit Tidak Main-main dengan Petani, Harga TBS Harus Stabil

Ketua DPRD Bengkulu Sumardi meminta pabrik CPO menjaga harga TBS sawit minimal Rp2.800 per kilogram demi petani.

Tayang:
Tribunnews.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi
DPRD - Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi saat diwawancarai di Balai Raya Semarak, Selasa (25/11/2025). Ketua DPRD Bengkulu Sumardi meminta pabrik CPO menjaga harga TBS sawit minimal Rp2.800 per kilogram demi petani. 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi meminta perusahaan pengolahan kelapa sawit atau pabrik crude palm oil (CPO) tetap memperhatikan kesejahteraan petani sawit di tengah penurunan harga tandan buah segar (TBS).

Sebelumnya, Aliansi Petani Sawit Provinsi Bengkulu, mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok.

Pemerintah Provinsi Bengkulu juga telah merapatkan persoalan tersebut, terkait harga TBS sawit yang anjlok.

DPRD - Suasana rapat DPRD Provinsi Bengkulu, puluhan anggota DPRD Provinsi Bengkulu yang hadir saat rapat paripurna masa sidang kedua 2026, Senin (4/5/2026).
DPRD - Suasana rapat DPRD Provinsi Bengkulu, puluhan anggota DPRD Provinsi Bengkulu yang hadir saat rapat paripurna masa sidang kedua 2026, Senin (4/5/2026). (TribunBengkulu.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi)


Sumardi menegaskan, harga TBS sawit sebaiknya dipertahankan minimal Rp2.800 per kilogram agar petani masih memperoleh keuntungan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurut Sumardi, harga tersebut dinilai masih memberikan selisih yang cukup antara biaya produksi dan hasil penjualan yang diterima petani.

“Harapan kita, pemilik pabrik TBS yang memproduksi CPO tetap memperhatikan nasib petani dengan mempertahankan harga TBS minimal Rp2.800 per kilogram,” kata Sumardi.

Ia menilai penurunan harga yang terlalu rendah dapat menimbulkan keresahan di kalangan petani. Bahkan, kondisi tersebut dikhawatirkan membuat petani bingung menentukan waktu panen karena khawatir hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya produksi.

“Jangan sampai petani merasa cemas, waswas, bahkan bingung apakah buah sawit mereka akan dipanen atau tidak,” ujarnya.

Selain itu, Sumardi juga meminta perusahaan sawit membangun kolaborasi dan kemitraan yang baik dengan para petani di Bengkulu.

Menurutnya, hubungan yang harmonis antara perusahaan dan petani penting untuk menjaga stabilitas ekonomi serta keamanan di lingkungan perkebunan maupun pabrik.

Ia mengatakan, perusahaan dan petani sama-sama memiliki kepentingan untuk bertahan dan berkembang sehingga perlu saling menjaga hubungan baik.

“Pabrik ingin usahanya berjalan baik, petani juga ingin hidup dengan layak. Karena itu harus ada kemitraan dan saling menjaga,” ungkapnya.

Sumardi berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan tidak mengambil kebijakan yang merugikan petani sawit di Bengkulu.

Disisi lain, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, menyoroti turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit yang dinilai tidak sejalan dengan harga crude palm oil (CPO) maupun minyak goreng di pasaran.

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved