Kamis, 4 Juni 2026

Opini

OPINI: Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu 

Benteng Marlborough berdiri di tepi Samudra Hindia, memunggungi dan sesekali mengintip gelombang yang menerus datang tanpa henti.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
HO TribunBengkulu.com
OPINI - Kolase foto penulis opini dengan judul Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu, Mahatma Muhammad. Penulis adalah seniman, pengamat dan pekerja budaya sekaligus pendiri Komunitas Seni Nan Tumpah. 

Maka nama besar pun diundang, panggung besar dipasang, lampu-lampu dibuat gemerlap. Orang pun datang.

Kemudian pertanyaan berulang lainnya: apakah orang-orang pulang dengan sekadar selfie di dinding kolonial, atau pulang dengan pengalaman baru tentang Bengkulu dan warisan budayanya?

Sebuah festival budaya adalah negosiasi. Nah, negosiasi ini tidak pernah manis, Kawan! Justru di sinilah strategi diperlukan.

Nama besar boleh kita hadirkan, tapi jangan jadi pusat. Mereka harus menjadi pintu masuk.

Pintu menuju subtansi festival yang sesungguhnya, yaitu segerobak pengetahuan tradisional yang diwariskan, gamad yang terdengar lirih, dol antraktif, pendap yang pedas, Marhaban Buai Anak  serta bahasa yang berlapis, dll. Kalau tidak, festival budaya hanya jadi pesta pinjaman.

Sejarah resmi suka rapi sekali. Misalnya, kalau bicara Marlborough, selalu saja soal tahun 1714, East India Company, dan penghormatan nama benteng bagi John Churchill.

Tetapi memori kolektif  masyarakat kita selalu lebih riuh, apa adanya, dan lebih berantakan.

Kita punya cerita orang Bengkulu yang dipaksa kerja rodi, punya cerita perempuan-perempuan yang dulunya menanak nasi di dapur benteng.

Bertahun-tahun, ada banyak cerita anak-anak yang bermain di bawah Meriam dan pintu-pintu benteng.

Itu semua tak ada dalam catatan resmi atau papan informasi. Sementara kita tahu, cerita-cerita itulah yang membuat sejarah berdenyut.

Dalam konteks narasi kebudayaan, sejarah tak resmi ini yang seharusnya menjadi nadi festival. Cerita yang tidak cuma kronologi, tapi pengalaman.

Narasi Marlborough justru hidup jika memberi ruang pada kisah dan dokumentasi keluarga di sekitar benteng, pada sastra lisan, dan pada pengetahuan tradisional dari dapur-dapur yang beraroma lada.

Benteng ini kemudian jadi tubuh kolektif yang bisa kita rasakan. Tak sebatas jadi bangunan saja.

Tema, Inovasi dan Kolaborasi Lintas Komunitas 

Pada setiap peristiwa budaya, saya menyakini, komunitas lokal tidak boleh jadi figuran. Tak cukup diminta tampil sebentar, lalu ditutup oleh panggung utama.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved