Kamis, 4 Juni 2026

Opini

OPINI: Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu 

Benteng Marlborough berdiri di tepi Samudra Hindia, memunggungi dan sesekali mengintip gelombang yang menerus datang tanpa henti.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
HO TribunBengkulu.com
OPINI - Kolase foto penulis opini dengan judul Benteng, Komunitas, Suara Laut dan Pintu, Mahatma Muhammad. Penulis adalah seniman, pengamat dan pekerja budaya sekaligus pendiri Komunitas Seni Nan Tumpah. 

Komunitas adalah napas kebudayaan, perajut peristiwa kolektif. Karena merekalah pewaris yang menjaga tabot, melafalkan syarafal anam, mengembangkan dol, mengenalkan permainan rakyat, menanak pendap berjam-jam, dan mewarnai dan menenun wastra.

Pelaku dan komunitas budaya tidaklah pelengkap, tapi inti.

Kalau kita punya impian Festival Serempak dan festival budaya sejenis di kota ini bertahan, saya meyakini komunitas di Bengkulu harus serempak pula bekerja sama menjadi pusat.

Harus serempak! Artinya ikut menentukan tema, arah, bahkan estetika festival.

Pemerintah memfasilitasi, swasta boleh mendukung, tapi otoritas harus dibagi. Kalau tidak begitu, festival hanya proyek dan tidak akan menjadi gerakan.

Kawan-kawan, kolaborasi itu jelas tidak boleh basa-basi. Kolaborasi bagi saya adalah etika. Etika saling mendengar.

Etika saling berbagi tanggung jawab. Etika untuk saling menghormati dan menerima keragaman. 

Benteng Marlborough bisa menjadi ruang publik yang inklusif di mana pemerintah, komunitas, seniman, swasta, dan publik duduk sama rata.

Sebagai seniman, ke depan saya membayangkan lebih banyak dol berdentum bersama musik elektronik yang beragam.

Saya mau lihat tabot lebih banyak ditafsir ulang melalui seni media, pengetahuan pendap dan tempoyak bisa jadi serial film berbagai genre, dipentaskan sebagai pertunjukan atau pameran rasa. 

Bicara soal inovasi, jangan langsung bayangkan lampu LED atau proyektor digital saja. Itu dekorasi, kawan! 

Tapi coba kita terjemahkan inovasi sebagai relasi tubuh tradisi yang bicara pada kegelisahan tubuh ini hari.

Bagaimana dol bisa bicara kepada anakku-anakmu, adikku-adikmu yang tumbuh dengan TikTok?

Bagaimana Tabot bisa dirasakan sebagai notifikasi ritual lintas generasi? Bagaimana pula modelnya sastra lisan bisa kembali hidup dalam bentuk teater musikal, rap, atau konten digital?

Bengkulu sudah punya banyak pintu untuk inovasi itu. Paket komplit! Ada cagar budaya benteng Marlborough atau rumah kediaman/pengasingan Bung Karno.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved