Dubes Iran Tanggapi Ide Prabowo Jadi Mediator Konflik AS-Iran: Tak Ada Perundingan atau Mediasi
Kini Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, merespons tawaran Presiden Prabowo Subianto sebagai mediator usai serangan Amerika Serikat.
Ringkasan Berita:
- Prabowo Subianto tawarkan diri jadi mediator konflik AS–Iran, menuai kritik.
- Dino Patti Djalal nilai usulan itu tidak realistis dan sulit terwujud.
- Dubes Iran Mohammad Boroujerdi apresiasi Indonesia, tapi tegaskan tak ada negosiasi efektif dengan AS.
- Dino sebut mediasi berisiko secara politik bagi Prabowo.
- Kemlu RI tegaskan Indonesia siap fasilitasi dialog jika disetujui kedua pihak.
TRIBUNBENGKULU.COM - Sebelumnya Prabowo Subianto menyampaikan usulannya sebagai mediator atas konflik Amerika Serikat dan Iran.
Usulan Prabowo Subianto itu sempat menuai beragam kritikan karena dianggap kurang tepat.
Salah satunya Mantan Duta Besar RI, Dino Patti Djalal menanggapi kesiapan Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik Washington dan Iran.
Menurutnya, wacana tersebut semestinya melalui pertimbangan matang sebelum disampaikan ke ruang publik.
"Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter (dipikirkan) dulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis," ungkapnya dalam video di akun X pribadinya, @dinopattidjalal, Minggu (1/3/2026).
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI itu kemudian mengulas karakter kebijakan luar negeri Washington saat mengambil opsi militer.
Ia menekankan bahwa Amerika Serikat hampir tidak pernah membuka ruang mediasi pihak ketiga ketika sudah memutuskan menyerang musuhnya.
Kendati demikian, kini Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, merespons tawaran Presiden Prabowo Subianto sebagai mediator usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Boroujerdi mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang telah bersedia memfasilitasi usai serangan tersebut.
Namun Iran berpandangan bahwa sampai saat ini tidak ada mediasi atau perundingan yang berdampak secara signifikan.
“Kami meyakini bahwa saat ini tidak ada negosiasi dan perundingan apa pun dengan pemerintah Amerika yang akan berguna, karena mereka tidak terikat dan tidak patuh pada hasil apa pun,” tegas Boroujerdi dalam jumla pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Meski begitu, Boroujerdi berharap negara-negara Islam menilai serangan AS dan Israel ke Iran sebagai tindakan ilegal dan turut mendukung Iran dengan menyampaikan kecaman keras.
Selain itu, ia berharap negara-negara Islam mendukung Iran melalui mekanisme organisasi internasional, seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Dan ketiga, agar menjalankan kampanye 'Katakan Tidak pada Perang' dan menolak perang di seluruh dunia serta menunjukkan penentangan mereka terhadap segala jenis peperangan,” tegas dia.
Tidak Mungkin Terjadi
Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada kurun 2004-2010 itu meyakini ide Prabowo menjadi penengah AS dan Iran tidak akan terjadi.
| Kapal RI Tertahan di Selat Hormuz, Iran Diduga ‘Sakit Hati’ Imbas Indonesia Gabung BoP |
|
|---|
| Respons DPR soal Wacana Potong Gaji Pejabat, Tak Masalah Asal Efisiensi Menyeluruh |
|
|---|
| DPR Tak Keberatan Gaji Dipotong, Prabowo Dorong Efisiensi di Tengah Krisis Global |
|
|---|
| Negara Berpotensi Hemat Rp40 Triliun Jika MBG Dipangkas 5 Hari, Prabowo Justru Tegas Menolak |
|
|---|
| Tak Cukup Minta Maaf, Ini Syarat Dapur MBG Hendrik Irawan Bisa Dibuka Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Dubes-Iran-Tanggapi-Ide-Prabowo-Jadi-Mediator-Konflik-AS-Iran-Tak-Ada-Perundinganatau-Mediasi.jpg)