Rabu, 6 Mei 2026

Kebakaran di Kepahiang

Curhat Pilu Petugas Damkar Rela Bantu Warga Korban Kebakaran Justru Dapat Kekerasan

Kisah pilu petugas Damkar Kepahiang saat bertugas memadamkan api kebakaran rumah warga di Desa Daspetah, Kabupaten Kepahiang pada Minggu (29/3/2026)

Tayang:
Penulis: Bima Kurniawan | Editor: Yuni Astuti
TribunBengkulu.com/Bima Kurniawan
KERICUHAN- kendaraan (kiri) dan petugas (kanan) damkar Kepahiang pada Minggu (29/3/2026). Oknum warga hambat petugas saat melaksanakan pemadaman api 

Ringkasan Berita:
  • Cerita petugas kebakaran (damkar) rela bantu warga justru jadi korban kekerasan.
  • Prengki Pratido alami kekerasan saat bertugas untuk membantu korban kebakaran.

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Curhat pilu petugas pemadam kebakaran (damkar) rela bertaruh nyawa demi bantu korban kebakaran berujung jadi korban kekerasan.

Malam itu, api belum sepenuhnya padam ketika luka lain justru muncul bukan dari kobaran si jago merah, melainkan dari tangan manusia sendiri. 

Di Desa Daspetah, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Minggu malam (29/3/2   026), suasana mencekam akibat kebakaran rumah berubah menjadi kisah pilu bagi para petugas yang datang membawa harapan. Alih-alih mendapat ruang untuk bekerja, mereka justru menjadi korban kekerasan. 

Prengki Pratido (25), seorang petugas pemadam kebakaran yang telah lima tahun mengabdikan diri, tak pernah membayangkan pengalaman pahit itu akan ia alami.

Malam itu, seperti biasa, ia datang dengan satu tujuan memadamkan api dan menyelamatkan yang tersisa. 

“Saya sudah sekitar lima tahun bertugas, dan belum pernah mengalami hal seperti ini,” ujarnya lirih. 

Saat mobil pemadam tiba di lokasi, Prengki segera bergerak cepat.

Ia naik ke atas mobil dan bersiap turun melalui tangga belakang untuk mulai bertugas.

Namun situasi di lapangan tak sepenuhnya ia pahami. Kerumunan warga yang padat menyelimuti lokasi kebakaran. 

Tanpa peringatan, sebuah pukulan datang dari arah belakang. 

“Saya tidak tahu ada kerumunan di sana. Tiba-tiba ada orang memukul dari belakang,” kenangnya. 

Balok kayu menghantam pinggang bagian belakangnya. Tidak ada kata, tidak ada peringatan hanya serangan mendadak dari seseorang yang bahkan tidak ia kenali. 

“Dia mukul menggunakan balok kayu. Saya tidak tahu siapa orangnya,” lanjut Prengki. 

Rasa sakit sempat menjalar, namun tugas tetap menjadi prioritas. Tanpa membalas atau mencari pelaku, ia memilih kembali fokus memadamkan api yang terus berkobar. 

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved