Berita Mukomuko
Dari Surga Satwa Jadi Kebun Sawit: Hancurnya Habitat Harimau Sumatera di Mukomuko Bengkulu
Jejak Hijau Indonesia Nilai Pengawasan Hutan Lemah, Habitat Harimau Sumatera di Mukomuko Bengkulu Terancam.
Penulis: Muhammad Panji Destama Nurhadi | Editor: M Syah Beni
Habitat Harimau Sumatera di Mukomuko Kian Terancam, Sawit Ilegal Kuasai Hutan
TRIBUNBENGKULU.COM, MUKOMUKO – Habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, semakin terancam akibat maraknya perambahan kawasan hutan produksi terbatas (HPT).
Koordinator Lapangan Jejak Hijau Indonesia (JHI), Jamaludin, mengungkapkan perambahan tersebut dipicu lemahnya pengawasan dari pemangku kebijakan, penegakan hukum yang longgar, serta rendahnya kesadaran masyarakat.
Kondisi ini membuat kawasan yang semestinya dilindungi justru beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.
“Hasil ground check di HPT Air Ipuh I pada 25 Agustus 2025 lalu menunjukkan hampir tidak ada lagi tegakan hutan primer. Yang tersisa hanya semak belukar dan kebun sawit milik warga maupun pengusaha lokal,” ujar Jamaludin, Rabu (3/9/2025).
Ia menyebut dari pengecekan di 20 titik mulai Kecamatan Malin Deman hingga kawasan HPT Air Ipuh I, seluruh area sudah tergarap untuk sawit.
Perusahaan perkebunan yang bersebelahan dengan kawasan hutan, seperti PT Alno Agro Utama Air Ikan dan PT Daria Dharma Pratama (DDP), dinilai tak menunjukkan upaya nyata menjaga kelestarian lingkungan.
Selain itu, lemahnya pengawasan pemerintah juga memperparah situasi.
Hampir dua tahun terakhir tidak ada patroli polisi kehutanan (Polhut) dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Bengkulu.
Akibatnya, deforestasi semakin meluas dan konflik manusia dengan satwa liar, termasuk harimau sumatera, kerap terjadi.
“Seringkali warga berhadapan langsung dengan satwa liar. Konflik pun tak terelakkan karena habitat mereka terusik,” tambah Jamaludin.
Kasus konflik manusia dan harimau sebelumnya sudah menelan korban jiwa, yakni Ibnu Oktavianto (22), warga Desa Tunggal Jaya, pada Januari 2025.
Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, menegaskan harimau membutuhkan wilayah jelajah hingga 100 km.
Namun, kerusakan hutan membuat satwa ini kekurangan ruang hidup dan mangsa.
Dalam tiga tahun patroli di bentang alam Seblat, pihaknya menemukan 6.000 hektare hutan berubah jadi sawit.
Padahal, sejak 2021, sudah ada sekitar 22.000 hektare hutan di kawasan itu yang terbuka untuk perkebunan.
“Harimau tidak pernah berniat bertemu manusia, kecuali karena terpaksa. Saat habitat hancur dan makanan berkurang, mereka bisa memangsa manusia,” jelas Ali.
Ali menambahkan, konflik satwa dan manusia juga dipicu menurunnya populasi babi hutan salah satu mangsa utama harimau bahkan sempat terjadi kematian massal puluhan ekor.
Kondisi ini membuat harimau semakin lapar dan rawan menyerang ternak maupun manusia.
Data Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mukomuko menunjukkan sekitar 70 persen dari total 78.315 hektare HPT di daerah itu sudah rusak akibat perambahan sawit ilegal.
Ali menegaskan, tanpa langkah strategis dan tegas dari pemerintah, bentang alam Seblat yang menjadi habitat penting harimau sumatera, gajah sumatera, serta berbagai flora-fauna, akan terus menyusut.
Selain kehilangan fungsi ekologis, konflik satwa dengan manusia dikhawatirkan semakin meningkat.
| Cegah Pencemaran dan Abrasi, Polres Mukomuko Inisiasi Gerakan Bersih Pantai |
|
|---|
| Kinerja Polres Mukomuko 2025: Kecelakaan Lalu Lintas Meningkat dan Penyelesaian 203 Perkara |
|
|---|
| Jelang Nataru 2025, Polres Mukomuko Sidak Pasar Cek Harga dan Kualitas Bahan Pokok |
|
|---|
| Gelombang Tinggi Kembali Hantam Pesisir Mukomuko, Dua Kios Warga Hancur |
|
|---|
| Gelombang Setinggi 13 Meter Hantam Pengaman Pantai Abrasi di Mukomuko Bengkulu, Kios Warga Rusak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Perambahan-Hutan-di-Mukomuko-Bengkulu.jpg)