Opini
OPINI: Gubernur Tiktoker
Gubernur berusia 46 tahun ini melakukan siaran langsung melalui platform media sosial Tiktok. Live Tiktok Helmi Hasan kini jadi populer.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga sangat populer di media sosial Tiktok. Semua orang se Jawa Barat bisa tahu apa yang dikerjakan KDM ----panggilan akrab Kang Dedi Mulyadi--- dari hari ke hari dengan cara menjadi followernya.
Helmi Hasan membuat terobosan pola komunikasi politik lewat live Tiktok. Pola komunikasi terbuka seperti ini tentu ada kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan model komunikasi seperti ini adalah Gubernur bisa mengetahui permasalahan masyarakat secara langsung. Dan langsung memberi solusi.
Hal ini terbukti dalam Live Tiktok Helmi Hasan tanggal 1 Juni lalu. Saat itu, ada pesan masuk di kolom komentar terkait keluhan lampu lampu taman di Taman Nusa Indah Kota Bengkulu padam.
Gubernur langsung menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk mengatasinya. Bukan besok. Tapi Gubernur minta malam itu juga agar dicek.
Selama ini, sudah lazim diketahui bahwa kepala daerah terbiasa menerima laporan dari anak buah secara berjenjang.
Pola komunikasi seperti ini birokratis sekali. Dan rawan manipulasi. Sebab, Gubernur tidak menerima laporan langsung dari bawah. Penyakit birokrasi kita sejak berpuluh-puluh tahun adalah penyakit ABS (Asal Bapak Senang).
Melalui Live Tiktok, pejabat Pemprov kini tidak bisa lagi membuat laporan ABS. Inbox Gubernur Helmi Hasan sudah penuh dengan keluhan.
Mulai pungutan uang perpisahan, uang komite, masalah ijazah, BPJS gratis, jalan rusak, lampu jalan padam, reward untuk atlet berprestasi, potongan zakat profesi 2,5 persen, kenaikan pajak kendaraan, proses pengerukan alur pelabuhan dll.
Kelemahan komunikasi politik terbuka ala Helmi Hasan adalah saluran siaran langsung tersebut bisa menjadi ruang caci maki.
Dari 23.900 komentar saat live TIktok tanggal 1 Juni lalu misalnya, tidak sedikit yang nyinyir dan protes. Ada juga yang nyindir cuma omon-omon
Ya itulah konsekuensi dari sebuah komunikasi politik. Suka dan tidak suka adalah hal lumrah.
Helmi sendiri tampaknya tidak begitu ambil peduli dengan segala caci maki. Dia sadar sekali sekarang era sudah terbuka. Siapa saja bisa ngomong apa saja.
Ibarat kata pepatah, semakin tinggi naik sebatang pohon, semakin kencang angin berhembus. Kritikan adalah obat. Pujian bisa jadi racun.
Terkait live Tiktok tadi, banyak pula kritikan dan saran yang masuk untuk Helmi Hasan. Misalnya, ada masukan agar frekewensi bermedia sosialnya dikurangi.
| Pancasila di Era Digital: Merawat Persatuan melalui Komunikasi Persuasif |
|
|---|
| OPINI - Di Balik Ompreng MBG Bengkulu: Ada Petani, Dapur, dan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Bergerak |
|
|---|
| Opini: Fenomena Geng Motor di Bengkulu, dari Pergaulan Remaja hingga Ancaman Jalanan |
|
|---|
| Atur Posisi Penumpang, Tapi Abaikan Sistem? Kritik Terhadap Kebijakan Penataan Gerbong KRL |
|
|---|
| Artificial Intelligence dan Kerumunan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Zacky-Antoni.jpg)