Selasa, 2 Juni 2026

Diplomat Muda Tewas

Blak-blakan Keluarga Yakin Arya Daru Bukan Bunuh Diri, Serukan Keadilan

Keluarga Arya Daru Pangayunan, seorang Diplomat Ahli Muda Kemlu, akhirnya angkat bicara terkait hasil penyelidikan yang dirilis Polda Metro Jaya.

Tayang:
Editor: Yunike Karolina
Kolase/Tribunnews.com
KEMATIAN ARYA DARU - Foto Arya Daru semasa hidup (kiri) dan barang bukti hasil penyelidikan poliis terkait kasus kematian diplomat muda ini saat ditunjukan pada jumpa pers pengumuman penyebab kematian Arya Daru pada Selasa (29/7/2025). Keluarga buka suara yakin Arya Daru bukan bunuh diri seperti dugaan polisi. 

"Kemudian di segmen pada tahun 2021, dimulai dari tanggal 24 September 2021 sampai dengan 5 Oktober 2021 sebanyak sembilan segmen. Intinya adalah sama ada niatan semakin kuat untuk melakukan bunuh diri karena problem yang dihadapi," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Nathanael Sumampouw, menuturkan Arya mengalami burnout secara psikologis dan lelah kepedulian karena profesinya sebagai diplomat.

Nathanael mengungkapkan peran Arya yaitu melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak dalam situasi krisis, menuntut adanya korban harus selalu berempati tinggi dan memiliki ketahanan psikologis.

“Yang (peran) ini semua tentu menimbulkan dampak seperti burnout, compassion fatigue atau kelelahan kepedulian, terus menerus terpapar dengan pengalaman-pengalaman penderitaan, trauma,” kata Nathanael.

Arya, kata Nathanael, dikenal sebagai pribadi yang positif di lingkungan kerja dan pergaulannya.

Namun, hal tersebut justru membuat Arya sulit mengekspresikan emosi negatif, terutama saat menghadapi tekanan tinggi.

“Tekanan tersebut dihayati secara mendalam sehingga mempengaruhi bagaimana almarhum memandang dirinya, memandang lingkungan, memandang masa depan,” ungkap dia. 

Namun, korban berusaha menginternalisasi berbagai emosi negatif dan tidak menunjukkannya di depan orang lain. 

“Meskipun demikian kami menemukan bahwa pada almarhum ada riwayat di mana berupaya untuk mengakses layanan kesehatan mental secara daring,” ujar dia. 

“Terakhir kali, dari data-data yang dihimpun, kami melihat kurang lebih pada tahun 2021. Awalnya dari data yang dihimpun dari tahun 2013,” tambah Nathanael.

Meski menghadapi dinamika psikologis yang kompleks, kepribadian Arya yang cenderung menekan perasaan membuatnya sulit mengelola kondisi psikologis negatif secara adaptif dan lebih memilih untuk menutupinya.

“Setelah terakumulasi penghayatan almarhum tersebut mengenai dirinya, masalah tekanan hidup, di episode terakhir kehidupannya ini, kemudian mempengaruhi proses pengambilan keputusan almarhum terkait cara kematiannya atau upaya untuk mengakhiri kehidupannya,” kata Nathanael.

Artikel ini telah tayang sebagian di Tribunnews.com 

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved