Opini
Cegah Anemia Pada Remaja Putri dengan Gizi Seimbang
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi di seluruh dunia.
Oleh Fera Widyanti, SST., M.Gz.
TRIBUNBENGKULU.COM - Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang yang memiliki efek bagi kesehatan manusia.
World Health Organization menyatakan bahwa anemia merupakan kondisi ketika konsentrasi hemoglobin menurun, kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan menjadi terganggu
menyebabkan kelelahan, berkurangnya kapasitas kerja fisik hingga sesak napas.
Apabila mengalami anemia maka akan menyebabkan terjadinya penurunan massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer.
Peraturan Menkes RI, remaja adalah individu yang berusia 10 hingga 18 tahun merupakan salah satu kelompok berisiko tinggi mengalami anemia yang dapat mengganggu pembelajaran dan menyebabkan tidak konsentrasi dalam belajar (WHO, 2017).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2019, prevalensi anemia di antara wanita usia 15-49 tahun di seluruh dunia adalah 30 persen.
Data Riskesdas tahun 2018 bahwa prevalensi anemia di Indonesia meningkat dari 21,7 persen tahun 2013 menjadi 23,7 persen tahun 2018.
Usia 15-24 tahun juga mengalami peningkatan dari 18,4 persen tahun 2013 menjadi 32,2 persen tahun 2018 (Kemenkes Republik Indonesia, 2018).
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada remaja putri, seperti menstruasi/kehilangan banyak darah, kurang asupan zat besi, diet yang keliru, perubahan psikologis.
Lalu perilaku, perkembangan fisik dan percepatan pertumbuhan, status gizi dan sosial ekonomi, inflamasi kronis dan akut, infeksi parasit, peningkatan kebutuhan zat besi, kehilangan zat besi dari tubuh selama menstruasi, sintesis hemoglobin, dan produksi sel darah merah.
Anemia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, sesuai dengan penyebab terjadinya anemia itu sendiri salah satunya adalah anemia defisiensi zat besi.
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa 50-80 persen penyebab paling umum terjadinya anemia secara global adalah kekurangan zat besi (WHO, 2017) yang disebabkan karena
Baca juga: Rejang Lebong Lumbung Tanaman Obat di Bengkulu, Penghasil Jahe dan Kunyit Terbanyak
(1) Asupan zat besi yang rendah.
Adanya asupan zat besi yang tidak mencukupi maka akan mengakibatkan cadangan besi dalam tubuh berkurang sehingga mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah di sumsum tulang.
(2) Penyerapan yang tidak adekuat, seseorang yang mengkonsumsi makanan tinggi zat besi tidak menjamin ketersediaan jumlah zat besi yang cukup di dalam tubuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Gizi118.jpg)