Jumat, 24 April 2026

Opini

Cegah Anemia Pada Remaja Putri dengan Gizi Seimbang

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum terjadi di seluruh dunia.

Editor: Yunike Karolina
HO TribunBengkulu.com/Kemenkes RI
CEGAH ANEMIA - Ilustrasi gizi seimbang. Gizi seimbang bukan hanya mencegah anemia namun juga menjadi kunci kesehatan dan prestasi optimal remaja. 

Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi atau makanan yang dikonsumsi, menghambat ataupun mempercepat penyerapan zat besi itu sendiri.

(3) Kebutuhan zat besi yang meningkat, adanya kebutuhan zat besi yang meningkat pada remaja mengharuskan tersedianya zat besi dalam jumlah yang cukup.

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa sehingga akan terjadi perubahan fisik, biologis dan psikologis. 

Remaja putri mempunyai risiko mengalami anemia karena adanya peningkatan kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan, peningkatan kehilangan zat besi saat menstruasi (WHO, 2017), 
ketidakseimbangan asupan dan kebutuhan, penerapan diet dan pemilihan makanan yang kurang tepat.

(4) Kehilangan darah secara kronis, kehilangan darah pada wanita terjadi karena menstruasi yang banyak dan lama.

Remaja putri yang tidak memiliki persediaan zat besi yang cukup dan penyerapannya rendah maka mekanisme tubuh tidak akan mampu menggantikan zat besi yang hilang selama menstruasi sehingga mengakibatkan remaja putri mengalami anemia. 

(5) Defisiensi zat gizi lain dapat menyebabkan anemia. Vitamin B9 dan B12 berperan dalam pematangan sel darah merah.

Proses hematopoiesis memerlukan peran vitamin A dan C. Kekurangan vitamin A mengakibatkan terganggunya mobilisasi besi sehingga cadangan besi tidak dapat dimanfaatkan untuk pembentukan eritrosit.

Penyerapan zat besi dalam bentuk nonheme meningkat empat kali lipat jika ada vitamin C.

Zat besi merupakan protein yang berperan dalam produksi hemoglobin yang terdapat pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, inti sel dalam plasma dan otot.

Orang dewasa membutuhkan 3-4 gr zat besi untuk produksi eritrosit dan 20-25 mg/hari untuk metabolisme sel.

Ketersediaan jumlah zat besi di dalam tubuh yang kurang akan mengakibatkan jumlah zat besi untuk eritropoesis juga kurang sehingga menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi.

Klasifikasi derajat defisiensi besi dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: 

(1) Deplesi besi, pada tahap ini persediaan besi di sumsum tulang menurun namun gejala belum tampak, morfologi dan distribusi sel darah merah normal.

(2) Eritropoiesis defisiensi besi, tahap kekurangan besi ini, kadar hemoglobin mulai menurun (<12>

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved