Selasa, 28 April 2026

Berita Bengkulu

DPRD Bengkulu Siap Sidak Pangkalan LPG, Pastikan Subsidi Tepat Sasaran

DPRD Bengkulu akan perketat pengawasan LPG subsidi dan sidak pangkalan, agar gas melon tepat sasaran bagi masyarakat kecil.

Panji Destama/TribunBengkulu.com/Muhammad Panji Destama Nurhadi
DPRD - Wakil Ketua I DPRD Provinsi Bengkulu, Teuku Zulkarnain, saat diwawancarai di Hotel Mercure, Kota Bengkulu, Senin (27/4/2026). DPRD Bengkulu akan perketat pengawasan LPG subsidi dan sidak pangkalan, agar gas melon tepat sasaran bagi masyarakat kecil. 

Ia juga menyinggung proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 4,4 persen menurut lembaga internasional, di tengah berbagai dinamika ekonomi global.

Dengan demikian, kenaikan harga LPG non-subsidi dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat memperberat tekanan ekonomi, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah serta pelaku usaha kecil.

Kenaikan LPG Non Subsidi

Kenaikan harga liquefied petroleum gas (LPG) non-subsidi mulai dirasakan oleh masyarakat, termasuk di Kota Bengkulu.

Tabung LPG ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram mengalami kenaikan cukup signifikan.

Kenaikan itu terjadi sejak tanggal 18 April 2026, diikuti dengan kenaikan BBM non-subsidi.

Pemilik pangkalan gas LPG di Kelurahan Anggut Bawah, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Irma, mengatakan kenaikan harga mencapai hampir Rp3.000 per kilogram.

“Kalau untuk kisarannya sekitar hampir Rp3.000 per kilogram,” ungkap Irma saat ditanya TribunBengkulu.com di pangkalan gas, Selasa (21/4/2026).

Irma menjelaskan, sebelum kenaikan, harga LPG 5,5 kilogram dijual sekitar Rp95 ribu per tabung. Namun kini naik menjadi Rp115 ribu.

“Yang ukuran 5,5 kilogram sebelumnya sekitar Rp95 ribu, sekarang menjadi Rp115 ribu,” jelas Irma.

Sementara itu, untuk LPG ukuran 12 kilogram, sebelumnya dijual sekitar Rp194 ribu, kemudian sempat naik menjadi Rp200 ribu, dan kini mencapai Rp235 ribu per tabung.

“Kalau yang 12 kilogram, sebelumnya Rp194 ribu, lalu naik Rp200 ribu, sekarang jadi Rp235 ribu,” tambah Irma.

Irma mengungkapkan, kenaikan harga tersebut sempat membuat sebagian konsumen mengeluh. 

Bahkan, ada yang memilih tidak jadi membeli setelah mengetahui harga terbaru.

“Kalau yang mengeluh ada, biasanya mereka jadi tidak jadi beli setelah tahu harganya naik,” kata Irma.

Meski demikian, menurut Irma, kondisi tersebut biasanya hanya terjadi di awal kenaikan harga. Seiring waktu, permintaan akan kembali normal.

Sumber: Tribun Bengkulu
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved