Selasa, 14 April 2026

Dewan Kito

Kisah Sukses Zamhari Ketua DPRD Mukomuko Periode 2024-2029, Sempat Jadi Penjahit-Kepala Desa

Zamhari Ketua DPRD Kabupaten Mukomuko Periode 2024-2029 menceritakan dirinya sempat menjadi penjahit dan Kepala Desa.

|
TribunBengkulu.com/Panji Destama
Ketua DPRD Kabupaten Mukomuko Periode 2024-2029, Zamhari (kiri) dan Istrinya berfoto bersama usai pelantikan Ketua dan Waka II DPRD Mukomuko, Rabu (6/11/2024). 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, MUKOMUKO - Sosok Zamhari  Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu Priode 2024-2029.

Zamhari sendiri lahir pada tanggal 15 Juni 1956 di Desa Teras Terumjam, Kecamatan Teras Terunjam, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Ia menikah dengan Istrinya sekitar tahun 1979 lalu, saat ini dirinya sudah memiliki 7 orang anak, 5 diantaranya cowok dan 2 diantaranya cewek.

Dirinya menceritakan perjalanan karirnya kepada TribunBengkulu.com, dulu dirinya sempat menjadi penjahit di Desa Teras Terunjam pada tahun 1985,.

“Dulu sekitar tahun 1984-1985 saya sempat menjadi penjahit, dua tahun sebelum menikah saya menjadi penjahit. Sesudah nikah pun juga menjahit,” ungkap Zamhari saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Kamis (7/11/2024).

Di saat dirinya menjadi penjahit pada waktu itu, dirinya tak banyak beristirahat, waktu-waktu yang ia miliki habis digunakan untuk menjahit.

Menurutnya, dirinya tak bisa beristirahat jika pakaian ataupun pekerjaan yang ada belum selesai.

“Kalau belum selesai menjahit misal satu stel pakaian, saya belum mau makan ataupun istirahat, saya yang ngukur saya yang jahit pokoknya saya sendirian yang bekerja waktu itu, karena meruapakan tanggung jawab,” tutur Zamhari.

Zamhari juga menceritakan, selain menjadi menjahit dirinya sempat membuka warung manisan dan mengambil barang-barang yang akan dijual ke Sumatera Barat di tahun 1988-1989.

Seiring berjalannya waktu, warung manisan yang ia buka sempat terkendala karena kehabisan modal, hingga akhirnya Zamhari harus menutup warung manisannya, untuk barang-barang di warung manisan tersebut ia bagikan ke warga sekitar.

“Selain menjahit juga, saya juga sempat membuka warung manisan, karena terkendala modal terpaksa tutup dan barang jualan saya bagikan ke warga,” jelas Zamhari.

Setelah warung manisan yang ia jalani gulung tikar, lantas ia membuka perkebunan mulai dari kopi, kayu manis dan nilam.

Dirinya membuka kebun seluas lebih kurang dua hekatare, setelah dirinya berkebun Kopi, kayu manis dan nilam ia belum mendapatkan hasil apapun.

“Setelah berkebun menanam kopi, kayu manis dan nilam, saya tak mendapatkan hasil apapun karena tidak ada harga waktu itu,” kata Zamhari.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved