Selasa, 21 April 2026

Opini

OPINI: Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba

Bengkulu, misalnya. Punya laut yang kaya, tambang yang melimpah, dan tanah yang subur. Tapi mengapa masih terus masuk dalam jajaran provinsi miskin

Editor: Yunike Karolina
Ho TribunBengkulu.com
OPINI - Sosok penulis opini Andi Azhar. Penulis opini dengan judul 'Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba' adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Bengkulu. 

Oleh Andi Azhar, Ph.D

TRIBUNBENGKULU.COM - Di negeri ini, kita sering kali terpukau oleh angka-angka. Kita sebut pertumbuhan ekonomi, kita pamerkan panjang jalan, dan kita bangga dengan volume ekspor.

Tapi kenyataannya, tak semua wilayah merasakan getar pertumbuhan itu.

Bengkulu, misalnya. Ia punya laut yang kaya, tambang yang melimpah, dan tanah yang subur. Tapi mengapa masih terus masuk dalam jajaran provinsi termiskin di Indonesia?

Ini pertanyaan yang bukan hanya layak ditanyakan, tapi mendesak untuk dijawab dengan kepala dingin dan hati jernih.

Mari kita tarik mundur sejenak, menengok sejarah. Bengkulu bukan wilayah biasa. Di masa silam, ia menjadi titik penting dalam peta perdagangan dunia.

Lada, pala, cengkeh, hingga emas pernah mengalir deras dari tanah ini menuju pelabuhan-pelabuhan jauh di India, Timur Tengah, hingga Eropa.

Kolonial pun berebut kuasa karena tanah ini dianggap strategis dan menjanjikan.

Tapi hari ini, ketika dunia makin terhubung dan informasi bisa menembus batas ruang, Bengkulu justru seperti tercecer dari arus utama kemajuan. Ada yang salah dalam sistem kerjanya.

Kita tak bisa bicara kemiskinan tanpa menyentuh soal konektivitas. Jalan di Bengkulu memang bertambah, tapi kecepatan logistik belum bisa menandingi provinsi lain di Sumatera.

Bandara sudah ada, tapi penerbangan langsung masih terbatas.

Pelabuhan Pulau Baai yang seharusnya menjadi gerbang ekspor belum terkelola maksimal.

Barang-barang dari Bengkulu harus lebih dulu transit ke Palembang atau Lampung untuk bisa masuk jalur logistik nasional. Di sini, efisiensi menjadi barang mahal.

Sayangnya, kita terlalu lama terpaku pada pola lama: gali, angkut, jual. Batu bara dikirim dalam kondisi mentah. Kopi ditanam dan dipanen, tapi diolah di tempat lain.

Sawit tumbuh subur, tapi pabrik-pabrik besar pengolahnya bukan milik anak daerah. Akibatnya, nilai tambah menguap entah ke mana.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved