Opini
OPINI: Bengkulu, Kaya tapi Tak Tiba
Bengkulu, misalnya. Punya laut yang kaya, tambang yang melimpah, dan tanah yang subur. Tapi mengapa masih terus masuk dalam jajaran provinsi miskin
Uang mengalir, tapi tidak kembali ke rumah. Inilah yang saya sebut sebagai "ekonomi pengangkut", kita sibuk mengangkut kekayaan keluar, tapi tak membangun jembatan nilai di dalam.
Masalahnya bukan hanya pada fisik, tapi pada struktur berpikir. Kita terlalu lama nyaman dengan status sebagai pemasok bahan mentah.
Pola ini mengakar, dan akhirnya menjadi sistem. Di balik sistem itu, ada birokrasi yang belum ramping, insentif yang belum menarik, dan kebijakan yang masih terbelenggu pada rutinitas.
Kita harus jujur, ini bukan soal kurangnya sumber daya, tapi kurangnya orkestrasi. Sumber daya hanya akan menjadi potensi, kalau tidak dikelola dalam sistem yang kolaboratif dan adaptif.
Banyak kepala daerah berpikir pembangunan dimulai dari proyek fisik: membangun jembatan, menambah panjang jalan, atau mempercantik taman kota. Tapi sesungguhnya, pembangunan dimulai dari pikiran.
Dari bagaimana kita mendesain masa depan. Dari cara kita membaca potensi dan menjahit jejaring.
Bengkulu butuh cara pandang baru: dari ekonomi berbasis komoditas ke ekonomi berbasis inovasi. Ini bukan perubahan kecil. Ini perubahan paradigma.
Kita tidak sedang kekurangan anggaran. APBD Bengkulu mencapai lebih dari Rp 3 triliun per tahun.
Yang kita butuhkan adalah perencanaan berbasis dampak, bukan hanya berbasis serapan anggaran.
Program yang berjalan jangan hanya menghabiskan dana, tapi juga menghasilkan daya. Daya untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Daya untuk memicu wirausaha muda. Daya untuk menyambungkan desa-desa dengan pasar global.
Anak-anak muda Bengkulu hari ini menghadapi dilema. Mereka punya potensi, punya kreativitas, tapi ruang tumbuhnya terbatas.
Banyak yang akhirnya merantau, bukan karena keinginan, tapi karena tidak tersedia lahan untuk berkembang di kampung sendiri.
Ini problem regenerasi. Kalau tak diatasi, Bengkulu akan kehilangan bonus demografi. Padahal, daerah ini punya human capital yang luar biasa, yang hanya butuh ruang dan dukungan untuk tumbuh.
Yang tak kalah penting adalah membangun brand identity Bengkulu. Kita lihat Bali dengan pariwisatanya, Yogyakarta dengan budayanya, Bandung dengan kreatifitasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Kesehatan-Mental-Mahasiswa-Dan-Perguruan-Tinggi-di-Indonesia-Kampus-Bisa-Apa.jpg)